Saturday, May 25, 2024
spot_imgspot_img
HomeBINA AKHLAK ANANDAPeran Sekolah Menanamkan Pembiasan Siswa Membaca

Peran Sekolah Menanamkan Pembiasan Siswa Membaca

Direktorat Jenderal PAUD dan Dikmas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggelar peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) tahun 2018 pada 6-9 September dan puncaknya pada 8 Sepember mendatang di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.

Menyambut peringatan HAI tersebut, ada sebuah pertanyaan mendasar, sejauh mana keluarga di Indonesia menanamkan pembiasaan membaca pada anak-anaknya?

Harus kita akui bahwa kebanyakan keluarga dari anak-anak didik kita bukan dari keluarga yang senang dengan membaca. Bahkan banyak yang di rumah tidak ada buku untuk bacaan anaknya. Maka, tentu saja aktivitas membacakan buku tidak pernah ada.

Beberapa sekolah sudah mewajibkan anak dan orangtua meminjam buku dari sekolah. Masalahnya, apakah dengan kewajiban itu akan membuat anak-anak secara otomatis akan gemar membaca. Jika sebuah keluarga tidak punya kesenangan membaca, maka meminjam buku tidak akan secara otomatis menyelesaikan masalah, yaitu langsung membuat anak-anak dan orangtua terlibat aktif dalam kegiatan membaca buku.

Yang terjadi adalah anak dan orangtua meminjam buku sebagai cara untuk menggugurkan kewajiban. Tapi, setelah buku dipinjam, buku hanya akan terus berada di tas sekolah anak, atau buku hanya diletakan di meja belajar tanpa di sentuh, apalagi dibaca.

Parahnya lagi, anak-anak dan orangtua terus memperpanjang budaya menjalani hari tanpa membaca. Setiap hari tetap saja diisi dengan kegiatan menonton televisi dan bermain gadget. Akibatnya, program wajib meminjam buku dari sekolah hanya jadi seremonial saja. Hanya menggugurkan kewajiban saja. Tentu saja ini sangat ironis jika memang sekolah kita sedang mendesain dirinya menjadi sekolah literasi.

Apa yang harus dilakukan sekolah?

Sekolah harus memberikan tanggung jawab pada anak dan orangtua. Maksudnya adalah setiap kali selesai meminjam, mencatat, dan memberikan buku pada anak, maka guru harus mengingatkan orang tua dengan berkata, “Jangan lupa, Ayah dan Ibu untuk membacakan buku buat buah hati!”

Setelah mengingatkan orang tua, selanjutnya yang perlu diingatkan adalah anak, “Jangan lupa, minta Ayah dan Ibu untuk bacakan ceritanya karena besok Bunda mau tanya-tanya soal ceritanya, loh!”

Inilah yang disebut pesan tanggungjawab. Bila sekolah melakukan dua hal ini, diharapkan akan dengan efektif mengingatkan orang tua dan anak untuk sama-sama meluangkan waktu setiap harinya untuk membaca buku bersama-sama. Jika orang tua lupa, maka anak akan minta orang tua untuk membacakan buku. Ini semua terjadi karena adanya pesan tanggung jawab dari sekolah.

Pendek kata, sekolah jangan hanya mencatat siapa pinjam buku apa, tetapi juga memberikan penekanan tanggung jawab pada orang tua dan guru untuk membaca buku yang dipinjam.

Dengan cara ini, anak dan orangtua akan bertanggung jawab untuk membaca buku. Mungkin pada awalnya sangat terpaksa, tetapi, karena pesan tanggung jawab, maka orang tua dan anak akan membaca setiap hari. Lantas kemudian akan menjadi kebiasaan membaca di keluarga sampai akhirnya menjadi keluarga yang literat.

Terhadap pesan tanggung jawab ini, saya pun masih teringat saat kejadian suatu pagi. Saat itu, anak saya Zakka (5 tahun), tiba-tiba menangis tanpa sebab saat mau mandi untuk berangkat sekolah. Saya dan istri bingung kebingungan. Setelah kami tanya baik-baik, Zakka berkata, “Belum baca buku!”

Saya dan istri langsung sadar. Zakka mendapatkan tugas setiap hari untuk selalu membaca buku. Zakka kemudian mengambil buku cerita yang dipinjam dari sekolah dan menyerahkan pada kami.

“Bacakan buku ini!”

Kami pun paham. Zakka menangis karena semalam tidurnya sore hari dan lupa dibacakan buku. Zakka pasti ingat pesan tanggung jawab dari gurunya yang meminta untuk dibacakan buku, sebab esok pagi pasti akan ditanyakan oleh guru hasil bacaannya. Saya dan istri tersenyum senang, sambil merasa bersalah.

Istri saya kemudian membacakan buku dengan suara lantang. Zakka menyimak dengan baik. Setelah selesai, ekspresi Zakka berubah. Zakka yang awalnya kecewa dan marah berubah menjadi bahagia.

“Zakka berangkat sekolah, ya!”

Saya dan istri tersenyum senang menyaksikan kenyataan ini. Di sini saya paham. Konsep wajib meminjam buku di sekolah tak sebatas meminjam. Akan tetapi , orang tua dan anak-anak diberikan tanggung jawab untuk dibacakan bersama anak-anak.

Di sinilah arti penting memberikan pesan tangunggung jawab pada anak dan orang tua agar buku yang dipinjam untuk dibaca. Melalui pesan tanggung jawab ini, anak-anak dan orang tua akan selalu mengingatkan untuk setiap hari membaca buku bersama-sama. HERU KURNIAWAN- Pengajar di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto, Penulis Buku Parenting dan Bacaan-Aktivitas Anak-anak

Artikel dimuat di laman: sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id

RELATED ARTICLES

Most Popular