Sunday, February 8, 2026
spot_imgspot_img
HomeMUDIPAT TODAYOrang yang Tidak Mempersiapkan Akhirat Artinya Ia Tidak Percaya Takdir

Orang yang Tidak Mempersiapkan Akhirat Artinya Ia Tidak Percaya Takdir

MUDIPAT.CO – ”Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Katakanlah: “Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?” Katakanlah: “Allah”. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allah?” Katakanlah: “Aku tidak mengakui”. Katakanlah: “Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)”.

Kalimat-kalimat tersebut merupakan terjemahan dari Surat Al An’am ayat 18-19, yang dikupas oleh Ustadz Dr.H.M. Sholihin, S.Ag, MPSDM pada kajian tafsir, Jumat (9/1/2026). Kajian ini diikuti oleh guru dan karyawan SD Muhammadiyah 4 (Mudipat) Surabaya.

Ustadz Sholihin menjelaskan bahwa hanya Allah yang berkuasa atas semua makhluk yang diciptakannya. Lebih lanjut, ia juga menegaskan turunnya Al Quran bertujuan memberi peringatan pada manusia. Menurutnya, sejatinya setiap manusia yang lahir adalah fitrah. ”Beberapa ulama berpendapat fitrah itu adalah islam,” ujarnya.

Ia pun mencontohkan ibadah puasa. Setiap selesai berpuasa manusia itu disebut kembali fitrah. Mengapa demikian? Menurutnya, kembali fitrah berarti bersih, suci. Sebab bisa jadi ia berpuasa tapi tidak beriman.

”Sama dengan tidak beriman orang yang sholat tapi kurang percaya datangnya hari kiamat, orang yang tidak mempersiapkan akhirat, tidak percaya takdir, baik takdir baik atau buruk,” ucapnya.

Lebuh lanjut Ustadz Sholihin mengingatkan kembali tidak ada orang yang tidak mengetahui kebenaran Islam. Setiap manusia hidup dibekali lima hal. Pertama, manusia diberi akal. Untuk apa akal itu? untuk mengetahui kebenaran dan untuk bisa membedakannya. ”Jika sudah tahu, maka harus dilakukan. Islam dan Alquran diturunkan untuk melindungi akal,” tegasnya.

Kedua, manusia dibekali hati nurani atau perasaan. Dengan hati nurani itu manusia bisa merasakan kebaikan dan keburukan. Apa rasanya? Ia pun menjelaskan sesuatu yang baik akan menimbulkan ketenangan dalam hidup kita. Yaa ayya tuhannafsul muthmainnah. “Sebab banyak orang mengetahui kebaikan tapi tidak dikerjakan. Itu namanya mengingkari dan mengingkari itu kerjaanya syetan,” tambahnya.

Ketiga manusia diberi Rasul, yang bertugas menggembirakan yakni memberi kabar gembira dan mengingatkan. “Termasuk guru adalah murabbi, yang memiliki tugas menggembirakan, dan mengingatkan murid-muridnya,” jelasnya.

Keempat, manusia diberi ajaran yaitu Islam. Islam sendiri artinya selamat, ketenangan, dan jalan yang lurus. Ajaran Islam berfungsi mengantarkan manusia dengan selamat dunia akhirat.

Kelima, manusia diberi hidayah (petunjuk), bimbingan untuk mengetahui kebenaran jalan yang lurus. (Azizah)

RELATED ARTICLES

Most Popular