MUDIPAT.CO – Dino panggilan karib dari Kapten Laut (P) Muhammad Andino Laksamana Sulaksono, S. Tr Han. Perwira ini memang luar biasa sejak masa sekolah di SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya (Mudipat). Kini karir Dino makin moncer di TNI Angkatan Laut. Alhamdulillah!
Setiap perjalanan hidup memiliki titik awal yang sederhana, namun penuh makna. Bagi Dino, perjalanan itu dimulai dari SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya, tempat ia pertama kali belajar tentang arti disiplin, tanggung jawab, dan nilai kehidupan yang hingga kini terus melekat dalam dirinya.
lahir di Surabaya, 18 September 1998, Dino menghabiskan masa kecilnya sebagai siswa SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya. Seperti anak-anak pada umumnya, ia bukanlah siswa yang sempurna. Ia mengakui bahwa pada masa itu dirinya termasuk anak yang aktif dan cukup menyita perhatian, namun justru dari situlah proses pembentukan karakter dimulai melalui bimbingan, kesabaran, dan ketulusan para guru.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, Dino melanjutkan sekolah di SMP Negeri 29 Surabaya, SMA Negeri 9 Surabaya, kemudian berlanjut di FH. Universitas Airlangga Surabaya. ( sampai dengan semester 4, karena semester 5 harus mengikuti tes masuk Akabri).
Tekad dan cita-citanya semakin menguat hingga akhirnya berhasil menempuh pendidikan di Akademi Angkatan Laut Angkatan LXV dan lulus pada tahun 2020. Perjalanan militernya berlanjut dengan Dik Penerbang Angkatan Dasar XXVII Tahun 2024, serta berbagai pendidikan dan kursus militer, baik di dalam maupun luar negeri.
Dalam pengabdiannya, ia telah mengikuti sejumlah penugasan penting, antara lain Satgas MTF UNIFIL Lebanon (2020–2022), Operasi Pengamanan Trisila III Wilayah Timur (2024), Latihan Bersama Sea Garuda di Thailand (2025), serta Satgas Penanggulangan Bencana Wilayah Sumatera (2025–2026). Namun di balik semua capaian tersebut, ada fondasi kuat yang terbentuk sejak masa sekolah dasar.
SOSOK GURU-GURU YANG TAK TERLUPAKAN.
Bagi Dino, keberhasilan yang ia raih hari ini tidak lepas dari peran besar para guru di SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya. Mereka bukan hanya pengajar, tetapi juga pendidik kehidupan. Bu Erni merupakan sosok guru yang paling berkesan. Dikenal tegas dan rajin mengingatkan bahkan sering “ngomel”
Bu Erni justru menjadi figur yang menanamkan kedisiplinan dan tanggung jawab.
Dari ketegasannya, Dino belajar bahwa kepedulian sering kali hadir dalam bentuk nasihat yang keras namun penuh cinta.
Bu Emma, guru mengaji sekaligus guru agama, memiliki peran yang sangat mendalam. Ia bukan hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menjadi penjembatan dalam berbagai masalah yang Andino hadapi semasa SD.
Dengan kesabaran dan pendekatan yang lembut, Bu Emma membantu membimbing dan meluruskan langkah seorang anak yang sedang belajar memahami diri sendiri.
Sosok lain yang tak terlupakan adalah
Pak Sholihin, yang oleh Dino disebut sebagai “malaikat”.Ketulusan, perhatian, dan kehadirannya di saat-saat penting memberikan rasa aman dan semangat untuk terus menjadi lebih baik. Hal serupa juga dirasakan dari Pak Edi, yang dikenal sebagai “wakilnya malaikat”, yang selalu memberikan dukungan dan contoh sikap yang penuh empati.
Tidak hanya guru-guru tersebut, seluruh dewan guru SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya memiliki tempat istimewa dalam perjalanan hidupnya. Kesabaran dalam mendidik, ketulusan dalam membimbing, serta doa-doa yang dipanjatkan menjadi bekal berharga yang terus ia rasakan hingga hari ini.
PESAN UNTUK ADIK-ADIK SD MUHAMMADIYAH 4 PUCANG
Melalui kisah hidupnya saya, Saya ingin sampaikan pesan sederhana namun bermakna: bahwa tidak ada anak yang gagal, yang ada hanyalah anak-anak yang sedang berproses. Dengan bimbingan guru, dukungan orang tua, dan kemauan untuk berubah menjadi lebih baik, setiap siswa memiliki kesempatan untuk meraih cita-cita setinggi apa pun.
Dari bangku SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya, langkah kecil dapat tumbuh menjadi pengabdian besar. Dan dari tangan para guru yang tulus, lahirlah generasi penerus bangsa yang siap mengabdi untuk Indonesia. (*/Mul)


