Wednesday, July 17, 2024
spot_imgspot_img
HomeMUDIPAT TODAYKyai Sholihin Ungkap Konsep Berislam yang Sangat Sederhana dan Empat Macam Nafsu...

Kyai Sholihin Ungkap Konsep Berislam yang Sangat Sederhana dan Empat Macam Nafsu Manusia

MUDIPAT.CO – Wujud kebersamaan itu bukan kemana-mana bersama. Tapi wujud kebersamaan itu adalah peduli, saling menghormati, saling menghargai, dan mau berbagi untuk orang lain.

Demikian tausiyah Wakil Ketua Pimpinan Muhammadiyah Wilayah Jawa Timur Dr KH M. Sholihin SAg MPSDM pada Halal Bi Halal dan Silaturahim keluarga besar Guru dan Karyawan SD Muhammadiyah 4 (Mudipat) Pucang Surabaya, Ahad (30/4/2023). Kegiatan diikuti 326 peserta terdiri dari guru dan karyawan beserta keluarganya serta alumni guru dan karyawan Mudipat.

Seperti Suli Daim, Achmad Fauzi, Anang Pramono, dan yang lainnya yang saat ini bergiat di bidang dan tempat lain. Acara bertempat di hall lt.1 Gedung Ahmad Dahlan Education Center (ADEC) Mudipat. Turut hadir Sekretaris Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ngagel Sugeng Purwanto dan Pengurus Majelis Dikdasmen PCM Ngagel Surabaya.

Kyai Sholihin menyampaikan, Bakda puasa itu yang semestinya terbentuk adalah munculnya kesadaran untuk peduli kepada orang lain, terutama kepala orang fakir dan miskin. Maka orang yang sudah berpuasa itu adalah orang yang Idulfitri. Idul kembali, fitri/fitro adalah keadaan asal mula manusia yang mau menerima segala kebenaran-kebenaran.

“Maka orang yang berhasil berpuasa adalah orang Idulfitri yang kembali ke asal mula, mau menerina kebenaran dari Allah. Sedangkan orang yang tidak berhasil puasanya adalah mereka yang mau balas dendam makan sebanyak-banyaknya.” jelas ayah tiga anak itu.

Dilanjutkan, manusia harus hati-hati dengan keinginan manusia. Karena manusia mempunyai keinginan yang tak terbatas. Maka masalah kalau merasa nyaman. Keinginan kita perlu kita puasakan. “Karena keinginan kita dibatasi oleh keinginan orang lain,” sarannya.

Dia mengimbuhkan, di dalam Islam, kebaikan adalah cita-cita terpenting dalam hidup. Kalau disimpulkan sebenarnya, Islam itu gampang. Kalau mau jadi orang Islam betulan, orang Islam yang dicintai Allah swt. adalah melalukan kebaikan dan meninggalkan keburukan. Di manapun cari kebaikan tinggalkan keburukan.

“Di rumah di masyarakat di tempat kerja cari kebaikan tinggalkan keburukan. Itu saja. Gampang meskipun praktiknya sukar.” tuturnya.

Empat Nafsu Manusia
Kyai Sholihin menjelaskan, nafsu manusia ada empat. Pertama, Nafsulmutminah, nafsu jiwa yang tenang. Orang setelah puasa harusnya jadi orang yang tenang.

“Secara teori dikatakan ketenangan sama dengan kemenangan. Maka kalau mau menang harus tenang. Alquran mengatakan dengan mengingat Allah jiwa akan tenang,” terang mantan kepala SD Mudipat itu.

Kedua, nafsu syaitoniyah. Adalah nafsu yang mengikuti syetan. Nafsu ini hanya mengajak kepada kemungkaran, kepada jalan yang tidak baik.

“Kita punya potensi itu. Ciri-cirinya adalah kita lebih senang kepada hal-hal yang tidak baik dibandingkan dengan sesuatu yang baik.” katanya.

Ketiga, nafsu kebinatangan. Manusia punya nafsu binatang bahkan bisa lebih parah dari binatang. Apa yang salah dari binatang? Binatang tidak tahu kebaikan dan kebenaran. Tidak tahu halal haram.

“Binatang tidak bisa membedakan baik buruk. Padahal prinsip beragama itu kebaikan dan kebatilan. Baik lakukan buruk tinggalkan. Manusia punya akal yang menjadi bekal manusia dalam berkehidupan,” terang pria asli Lamongan itu.

Selanjutnya, dikatakan, orang yang mendapatkan hidayah adalah yang semakin yakin dalam keimanannya dan semakin rajin dalam ibadahnya. Kita yakin seyakin-yakinnya, Agama ini adalah solusi dari segala persoalan kehidupan. Semakin yakin dan semakin rajin.

“Maka setelah puasa ada syawal. Itu artinya peningkatan. Ada peningkatan dari iman dan rajin ibadah kita.” tegasnya.

Kyai Sholihin mengatakan, keempat, nafsu sabu’iyah. Nafsu kekerasan. Manusia suka melalukan nafsu kekerasan baik kekerasan verbal maupun fisik. Kekerasan ucapan ini juga berbahaya. Ucapan manusia akan menjadi nasibnya.

“Ada satu teori afirmasi. Bahwa pikiran orang menjadi ucapan, ucapan menjadi tindakan, tindakan menjadi kebiasaan, kebiasaan menjadi karakter, dan karakter menjadi takdir dalam hidupnya. Itu mencerminkan akhlak kita. Maka Rasulullah menyebut orang yang bertaqwa adalah dia yang berakhlaq baik.” pungkas Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya itu. (Mul)

RELATED ARTICLES

Most Popular