Perbuatan Fasik itu Orang Mengaku Islam tapi masih Suka dengan Hal-Hal yang Diharamkan

98
Ustadz Dr H. M. Sholihin mengisi kajian tafsir Al-Qur'an di Masjid KH Ahmad Dahlan Mudipat. (Zidan/Mudipat.co)

MUDIPAT.CO – Al-Qur’an Surat Al-Maidah ayat 3 terdapat dua hal yang bertentangan. Pertama hal yang diharamkan atau harus dijauhi . Kedua hal yang dihalalkan atau dibolehkan. Demikian penjelasan awal yang disampaikan oleh Dr.H. M. Sholihin, M.Pd.,dalam kajian tafsir rutin untuk guru dan karyawan SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya (Mudipat), di Masjid KH Ahmad Dahalan Mudipat, Jumat (12/08/2022).

Lebih lanjut Ustadz Sholihin menjelaskan ayat ketiga diawali dengan kata ‘hurrimat’, diharamkan. Ia melontarkan pertanyaa, apa yang diharamkan? Yaitu diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih. Dan (diharamkan pula) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan pula) mengundi nasib dengan azlam (anak panah), (karena) itu suatu perbuatan fasik.

“Perbuatan fasik itu orang mengaku Islam tapi masih suka dengan hal-hal yang diharamkan. Karena itu harus dijauhi,”jelasnya. Fasik adalah orang yang keluar dari ketaatan kepada Allah SWT dan rasul-Nya.

Lebih lanjut ia mengingatkan agar kita harus hati-hati dengan perbuatan atau makanan yang haram. Sebab orang yang memakan haram tidak akan masuk surga. Meski Allah mengharamkan beberapa makanan seperti yang disebutkan pada awal ayat, namun jika terpaksa diperbolehkan.

Menurutnya beberapa ulama sepakat ukuran terpaksa adalah nyawa, hidup, dan mati. “Kalau tidak makan akan meninggal, maka diperbolehkan untuk makan makanan yang diharamkan tersebut. Allah melarang tapi memberi kelonggaran. Itulah bukti bahwa Allah Maha pengampun dan penyayang.”ungkapnya.

Ustadz Sholihin juga menjelaskan pada ayat tersebut juga terdapat ayat terakhir yang diturunkan pada Nabi Muhammad pada saat haji wada. “Alyauma akmaltu lakum dinakum wa atmamtu ‘alaikum ni’mati wa rodhiitu lakumul islamadina.”

Ayat ini menurutnya juga menyiratkan bahwa untuk menyempurnakan keimanan, manusia harus menjauhkan hal atau makanan yang haram. “Makan yang haram tidak diukur sedikit atau banyak. Jika makanan itu sudah diharamkan, maka meski hanya sedikit tetaplah haram.”tegasnya.

Selanjutnya kesempurnaan iman yang kedua dapat diperoleh dengan saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Ketiga saling tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa. Orang yang bertaqwa cirinya suka menolong. Menolong bukan hanya materi tetapi bisa dengan tenaga.

Kesempurnaan iman yang terakhir adalah amar makruf nahi munkar. Sebagaimana firman Allah ud’u ilaa sabiili rabbika bialhikmati waalmaw’izhati alhasanati wajaadilhum biallatii hiya ahsan (QS.An Nahl: 125). Mengajak kebaikan dan mencegah yang munkar tidak harus dilakukan di atas mimbar. Tapi bisa dilakukan dimana saja, misalnya di rumah mengajak shalat berjamaah, peduli orang lain dan lain-lain. (Azizah)