Friday, May 8, 2026
spot_imgspot_img
HomeMUDIPAT TODAYMeski Anak SD Siswa-Siswa Mudipat Ini Sudah Akrab dengan Riset

Meski Anak SD Siswa-Siswa Mudipat Ini Sudah Akrab dengan Riset

MUDIPAT.CO – Kata riset atau penelitian biasanya identik dengan mahasiswa dan perkuliahan. Namun, hal ini menjadi lumrah di kelas IV-I Cape Town SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya (Mudipat). Pasalnya, siswa-siswi tersebut melakukan penelitian sederhana untuk proyek liburan akhir tahun selama bulan Desember 2021 lalu.

Awalnya, siswa dibiasakan menumbuhkan rasa ingin tahu tentang banyak hal dan menuliskannya. Setiap hari mereka dipantik untuk bertanya tentang sesuatu. Misalnya, “mengapa aku tidak tumbuh tinggi meski minum susu setiap hari” atau “kenapa kita memiliki suku/ras berbeda-beda, padahal sama-sama keturunan Adam as?”

Setelah terbiasa menanyakan banyak hal. Ustadzah membantu mereka menemukan jawabannya dari buku, e-library, atau internet. Dari beberapa informasi yang ada, siswa bersama ustadzah menghimpunnya dan mengeksperimenkan bersama. Kemudian hasilnya ditulis menjadi sebuah karya riset dan eksperimen bersama.

Saat Penilaian Akhir Semester (PAS) usai pada awal Desember 2021 lalu, ustadzah memberi tugas riset dan eksperimen secara individu pada seluruh siswa. Sebagai kegiatan di sela menunggu liburan dan persiapan penerimaan rapor. Masing-masing siswa diminta menuliskan pertanyaan yang selanjutnya akan menjadi rumusan masalah dalam penelitiannya.

Ustadzah pun membimbing satu per satu tentang informasi apa saja yang diperlukan, siapa saja informannya, dan eksperimen apa yang bisa menunjang riset. Setelah riset usai, siswa diminta menuliskan hasilnya dan mengumpulkan di classroom yang disediakan.

Nazril Azka melakukan penelitian di minum bersoda. (humasmudipat)

Risetnya sungguh beragam. Ada yang meneliti tentang reaksi coca cola yang dimasuki permen mentos, negara Yunani dan keunikannya, mengapa kertas berwarna putih, di Indonesia bisa terjadi hujan es, dan seterusnya.

Tirtania Raya Sarasvati meneliti tentang “mengapa aku sering lupa” dan mengeksperimenkan hal sederhana. Mulanya ia gemas pada dirinya yang pelupa sehingga ingin meneliti hal itu. Dalam eksperimennya, ia memberi tahu 10 nama pada 5 orang berbeda usia. Dalam 3 hari ia menanyakan hal yang sama pada informan yang sama. Hasilnya, ternyata faktor usia pun dapat memengaruhi ingatan. Ia pun mencari tahu cara agar tidak mudah lupa dan mengaplikasikan pada dirinya selama seminggu. Hasilnya, ia tidak sepelupa sebelumnya.

Berbeda dengan Dilan Ramadhan. Ia penasaran dengan adiknya yang berumur 7 bulan bagaimana bisa tumbuh cepat tanpa disadari oleh orang di sekitarnya. Ia mencari referensi dari buku dan internet terkait pertumbuhan bayi usia 0-7 bulan. Kemudian ia memperhatikan pertumbuhan adiknya dengan cara mengukur panjang, berat badan, dan lingkar kepalanya. “Ternyata adikku bertumbuh setiap hari,” tandas anak sulung 2 bersaudara ini.

Ustadzah Alviani, pengajar kelas IV-I Cape Town mengaku takjub pada kegigihan siswa dalam proyek tersebut. “Betapa mengejutkan melihat antusiasme anak kelas IV SD dalam penelitian,” jelasnya. “Sesungguhnya kegiatan ini terinspirasi dari SALAM, Sanggar Anak Alam Yogyakarta, yang membiasakan siswanya sejak kelas I SD melakukan riset sesuai kemampuannya. Agar kelak menjadi generasi kritis dan tak mudah termakan hoax. Lebih jauh lagi, semoga merekalah bibit profesor masa depan,” ungkap Ustadzah Erfin wali kelas IV-I Cape Town.

Riset ini pun mendapat sambutan hangat dari siswa. Tak ada satupun yang merasa kesulitan dalam riset. “Seru sekali seperti diberi tantangan baru,” ungkap M Azka Arrayyan, peraih Gold Medal Story Telling ME Award 2021. (erfin)

RELATED ARTICLES

Most Popular