Unik! Siswa Kelas Ini Membuat Boneka dari Kulit Jagung Menyemarakkan Kemerdekaan

127
Azalea Sabina Kurnyadi dengan karyanya. (humasmudipat)

MUDIPAT.CO – Ada yang istimewa di Kelas 1-D SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya (Mudipat), Senin (16/8/2021). Yakni pada pembelajaran Tema 1 Subtema 4 tentang Aku Istimewa, siswa membuat karya boneka dari kulit jagung bernuansa kemerdekaan.

Hasilnya pun beragam. Ada yang membuat boneka dari Irian, boneka pakai kerudung, boneka pakai kopyah, boneka berambut keriting, boneka sedang menari, dan yang lainnya.

Salah satu siswa, Azalea Sabina Kurnyadi membuat boneka kemerdekaan dari kulit jagung. Yakni boneka dari kulit jagung itu dipakaikan kerudung dan memegang bendera merah putih. Menurut bocah kelas 1-D itu, karyanya merupakan ekspresi dalam rangka menyemarakkan hari kemerdekaan Republik Indonesia.

“Saya membuat bonekanya dibantu oleh asisten,” terang Azalea. “Menurut saya makna merdeka bagi saya adalah merdeka untuk berkreasi, berkreatifitas, dan bermimpi setinggi-tingginya dengan dasar iman dan taqwa kepada Allah SWT,” katanya.

Siswa lain, Muhammad Raditya Athallah Hartanto mengaku membuat boneka dibantu oleh Sang Bunda. Raditya membuat boneka merdeka dengan membawa bendera.

“Makna merdeka buat saya artinya kita sudah bebas belajar. Apalagi dengan kondisi daring seperti ini, kita bisa belajar dari manapun, dengan cara apapun dan dimana pun,” terang Raditya.

Siswa lain, Ghulam Azmi Ramdhani di akhir pembelajaran setelah semua karya ditunjukkan, mengatakan, ternyata boneka dari bahan yang sama hasilnya bisa berbeda. “Padahal bahan dan cara buatnya sama ya,” ujar Azmi.

Lantas Wali kelas 1-D Ustadzah Panca Indrayani SPd menjelaskan, pembelajaran Tema 1 Subtema 4 tentang Aku Istimewa ini diharapkan siswa bisa menghargai keberagaman yang ada di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

“Di awal pembelajaran ini kita tunjukkan gambar orang dari berbagai daerah tentang keberagaman masyarakat Indonesia bahwa setiap individu punya memiliki ciri khas tersendiri. Walaupun berasal dari satu keluarga,” terang Ustadzah Yani—sapaan akrabnya.

Kemudian supaya anak-anak tidak jenuh dalam pembelajaran daring itu, maka sang guru mengajak anak-anak untuk membuat boneka berbahan kulit jagung. Rupanya dari hasil karya yang dihasilkan setiap anak berbeda-beda.

“Nah, inilah yang namanya keberagaman. Dan kita harus saling hargai karya masing-masing. Pada prinsipnya semua kita adalah istimewa di keahlian masing-masing,” pungkas Ustadzah Yani. (mul)