MUDIPAT.CO – SD Muhammadiyah 4 (Mudipat) Pucang Surabaya meluncuran (launching) serta bedah buku, ada 13 buku karya siswa dan guru, di Auditorium The Millenium Building (TMB) Lantai 4 Din Syamsuddin, Kamis (18/6/2026).
Tema yang diusung dalam pagelaran kali ini sangat menggugah semangat, yakni “Spirit Berliterasi: Inspirasi dan Prestasi Tiada Henti”. Tidak tanggung-tanggung, sebanyak 13 buku resmi diluncurkan, yang terdiri dari 10 buku antologi karya siswa dan 3 buku antologi karya para guru.
Agenda tersebut menghadirkan pembicara dan narasumber yakni, Pemred PWMU.CO Agus Wahyudi, MPd dan Dosen Vokasi Unair & Pemerhati Karya Sastra Anak Dr Elsyea Adia Tunggadewi MT. Hadir pula Ketua PCM Ngagel, Surabaya Ah Zaini MPd dan Ketua Majelis Dikdasmen PCM Ngagel Surabaya Suyatno SPd MPsi.

Kepala SD Muhammadiyah 4 Surabaya, Edy Susanto SPd MPd, menyampaikan bahwa wadah ini sengaja dibentuk untuk mengasah minat baca sekaligus melatih keberanian anak-anak dalam menuangkan ide melalui tulisan.
“Di setiap tahun, tepatnya di tengah semester pada bulan Desember atau momen literasi seperti ini, kami mengadakan showcase literasi dan art performance. Ini menjadi wadah bagi anak-anak untuk belajar menulis, menumbuhkan kesukaan membaca, dan menampilkan karya-karya terbaik mereka,” ujarnya.
Gerakan menulis ini dimulai dari ruang-ruang kelas. Edy menjelaskan, di kelas 3 dan kelas 4A, terdapat kesepakatan dan motivasi yang kuat dari para wali kelas agar anak-anak mengumpulkan tulisan mereka. Tulisan-tulisan yang terkumpul tersebut kemudian dikurasi hingga berhasil dibukukan menjadi 10 buku karya siswa.
Karya yang dihasilkan pun sangat variatif karena siswa dibebaskan memilih genre sesuai minat mereka agar kreativitasnya tidak terbatas. Ada siswa yang menulis cerita pendek (cerpen), puisi, hingga pantun.
Tidak mau kalah dengan anak didiknya, para guru SD Mudipat juga meluncurkan 3 buku antologi bertema literasi. Ketiga buku tersebut masing-masing merupakan karya dari: Sulthon (Guru Al-Islam Kemuhammadiyahan),Pega Mustika dan Kurniawati Laela (Buku Antologi Bersama), serta Edy Susanto, SPd MPd (Buku Antologi Kepala Sekolah).
Meski berhasil menelurkan belasan buku, Edy tidak menampik adanya tantangan dalam proses kreatif anak-anak yang masih duduk di bangku kelas 3 dan 4 SD. Kendala terbesar umumnya terletak pada pemilihan kata atau diksi, serta keterbatasan imajinasi normatif anak-anak.
Oleh karena itu, dalam sesi bedah buku, hal-hal terkait diksi, imajinasi, dan sistematika penulisan dipetakan dengan baik guna melihat potensi anak yang sudah memiliki kemampuan linguistik menonjol. Kendati tidak ada pelatihan penulisan secara khusus sebelumnya, karya-karya ini lahir secara mengalir berkat program pembiasaan membaca harian yang konsisten di SD Mudipat Surabaya.
”Melalui pembiasaan membaca setiap hari di sekolah, apa yang mereka baca akhirnya terekam dengan baik. Dari sanalah anak-anak kemudian mampu menuangkannya kembali ke dalam bentuk tulisan yang indah, seperti cerpen, puisi, dan pantun yang kita saksikan hari ini,” pungkasnya. (mul)


