​Gedung TMB, Auditorium lantai 4 SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya (Mudipat) dipenuhi oleh para orang tua murid kelas 1 pada Sabtu, 7 November 2026. Mereka hadir untuk mengikuti kegiatan parenting bertajuk “Sinergi Orang Tua dan Sekolah dalam Tumbuh Kembang Anak, Mandiri, Berakhlak Mulia, dan Berprestasi.”
Suasana acara berlangsung hangat dan khidmat sejak dibuka dengan penampilan seni membela diri Tapak Suci serta lantunan ayat suci Al-Qur’an dari program tahfidz kelas 1. Momen haru menyelimuti ruangan saat para orang tua memberikan potongan surat Al-Qur’an yang kemudian dilanjutkan dan dituntaskan oleh anak-anak mereka.
​Dalam sambutannya, Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 4 Surabaya, Ustaz Edy, menekankan pentingnya pembiasaan dan kedisiplinan harian anak sejak dari rumah. Beliau memohon bantuan dan kerja sama penuh dari para orang tua untuk memantau ibadah sholat anak-anak, mengingat pemantauan sholat shubuh secara ketat akan mulai dilakukan di kelas 3. Selain itu, beliau mengingatkan agar para siswa selalu dipastikan sudah sarapan sebelum berangkat sekolah, dibiasakan berinteraksi sosial, diajarkan bersedekah, serta memiliki pola tidur yang teratur.
Ustaz Edy mengimbau agar anak tidak dibiasakan bermain gawai sebelum tidur dan maksimal sudah beristirahat pada pukul sembilan malam agar merasa nyaman dan fokus saat belajar. Beliau menegaskan bahwa tumbuh kembang anak bermula dari rumah melalui tiga pilar utama, yaitu keteladanan dengan memberikan contoh nyata seperti sholat bersama, pembiasaan seperti melatih anak menyapu di rumah, serta pendampingan secara berkelanjutan.
​Sesi utama kegiatan ini diisi oleh psikolog perkembangan anak, remaja, dan keluarga, Asteria Ratnawati, S.Psi., Psikolog. Dalam pemaparannya, Asteria menekankan bahwa perbedaan generasi menuntut pendekatan pengasuhan yang berbeda pula, di mana ayah dan ibu harus hadir secara utuh mendampingi anak dalam rentang usia tumbuh kembang dari dalam kandungan hingga sebelum 18 tahun. Mendampingi anak berarti mau terlibat secara aktif melalui komunikasi yang intens, menemani aktivitas mereka, memahami perkembangan dunia anak, menjadi tempat bersandar yang nyaman saat anak sedih, kecewa, atau marah, serta bertindak sebagai motivator ketika anak menghadapi tantangan.
Asteria juga menyampaikan pentingnya menerapkan prinsip 4D, yaitu dengarkan, dengarkan, dengarkan, kemudian diskusikan, sebab kebiasaan orang tua mendengarkan akan melatih anak untuk belajar mendengarkan orang tuanya.
​Lebih lanjut, Asteria menguraikan pentingnya pemahaman atas perbedaan karakteristik dan mekanisme regulasi emosi antara laki-laki dan perempuan, serta perlunya kesadaran bahwa perkembangan otak depan anak baru matang sempurna pada usia 20 hingga 25 tahun. Kehadiran orang tua sebagai contoh peniruan (role model) memegang peranan besar dalam membentuk kepribadian anak, sehingga jika terdapat masalah perilaku anak di sekolah, orang tua diharapkan segera berinstrospeksi dan mengajak anak berdiskusi mencari solusi.
​Asteria secara khusus menggarisbawahi peran penting figur ayah dalam pengasuhan. Fenomena fatherless atau ketiadaan peran ayah kerap menjadi penyebab gangguan perkembangan anak yang memengaruhi peran gender, performa sekolah, kondisi psikologis, hingga aspek sosial emosional. Oleh karena itu, ayah dianjurkan untuk tidak ragu memprakarsai komunikasi terlebih dahulu melalui obrolan ringan sehari-hari.
​Untuk membentuk kebiasaan positif anak, Asteria mengenalkan konsep BCL, yaitu bicarakan, contohkan, dan lakukan. Selain itu, anak juga perlu dibekali keterampilan hidup serta pemahaman tentang batasan diri agar berani bersikap tegas saat menerima perlakuan kurang baik dari temannya. Mengingat pengasuhan adalah tanggung jawab besar, beliau mengajak orang tua untuk memanfaatkan sekolah sebagai mitra terpercaya yang membantu menjaga dan mendidik anak selama orang tua bekerja.
Rangkaian kegiatan parenting yang sarat pemahaman ini kemudian ditutup dengan agenda penerimaan rapot sisipan bagi para siswa kelas 1. (Sal-f/Mul)


