Bagaimana jika mi yang biasanya menggugah selera berubah menjadi hidangan dari dunia monster? Imajinasi unik itu muncul dalam kegiatan PENS (Practice English with Native Speaker) siswa kelas 4A–4I SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya (Mudipat) pada 12–16 Oktober 2026. Melalui materi Food and Quantifiers, siswa mendapat tantangan unik dari native speaker untuk merancang resep makanan mengerikan bersama kelompok masing-masing.
Kegiatan yang berlangsung di kelas masing-masing selama jam pelajaran bahasa Inggris ini menghadirkan native speaker asal Kanada dari PT PLS Mitra Global. Siswa tidak hanya mempelajari kosakata tentang makanan dan ungkapan untuk menyatakan jumlah, tetapi juga mendapat kesempatan untuk menggunakan bahasa Inggris melalui aktivitas yang mengasah kreativitas dan kerja sama.

Salah satu aktivitas yang paling menarik bagi siswa adalah membuat resep makanan mengerikan. Dalam kelompok, mereka bebas menuangkan imajinasi, menentukan nama hidangan, menyusun ide resep, hingga menggambarkan menu ciptaan mereka. Hasilnya pun beragam dan tidak biasa. Salah satunya adalah kreasi bernama “The Demonth Noodle”, sebuah nama hidangan yang mencerminkan keberanian siswa mengeksplorasi ide di luar kebiasaan.
Bagi siswa, tantangan ini menjadi pengalaman yang menyenangkan karena mereka dapat berkreasi bersama teman-teman sambil mempraktikkan bahasa Inggris langsung bersama penutur asli. Proses merancang resep juga memberi ruang bagi mereka untuk berdiskusi, menyampaikan pendapat, dan menyepakati gagasan kelompok sebelum mempresentasikan hasilnya.
“Ini pertama kalinya saya membuat makanan yang mengerikan. Belajar bahasa Inggris kali ini sangat seru,” ujar Arkhan.

Kehadiran penutur asli dalam menyampaikan materi berhasil melatih rasa percaya diri siswa dalam menggunakan bahasa inggris. Mereka tidak hanya terdorong untuk aktif melakukan tanya jawab tetapi juga terlatih menyampaikan gagasan kreatif dengan berani.
Melalui PENS, Mudipat menghadirkan pengalaman belajar bahasa Inggris yang memadukan praktik komunikasi, kreativitas, dan kolaborasi. Dari resep makanan yang mengerikan, siswa belajar bahwa berbahasa bukan sekadar menghafal kata, melainkan juga berani mencoba, bertukar ide, dan mengekspresikan imajinasi. (Meiwin)


