MUDIPAT.CO – Menjelang waktu berbuka puasa, suasana hangat dan religius menyelimuti Studio Mudipat pada Kamis (12/3/2026). SD Muhammadiyah 4 (Mudipat) Surabaya menggelar kegiatan kajian live streaming yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube Mudipat TV. Mengusung tema “Meraih Kebahagiaan dengan Berbagi di Bulan Ramadhan”, acara ini menjadi sarana edukasi spiritual bagi seluruh keluarga besar Mudipat, khususnya para siswa.
Acara dibuka dengan penampilan memukau “Suara Emas” dari Ustadzah Laila dan Ustadzah Diah, dengan iringan instrumen dari Ustadz Nahari. Lagu berjudul “Dengan Menyebut Nama Allah” yang dibawakan secara khidmat berhasil membangun suasana takzim di awal kajian. Di tengah sesi diskusi, pemirsa kembali dimanjakan dengan lantunan lagu “Pintu Taubat” yang menambah kekhusyukan acara ngabuburit virtual ini.
Hadir sebagai pemateri, Ustadz Luqman Nuryadin, S.Pd.I., selaku Kaur AIK SD Muhammadiyah 4 Surabaya. Dalam paparannya, beliau menekankan bahwa pada hakikatnya, apa yang kita keluarkan untuk orang lain akan kembali kepada diri kita sendiri.
Beliau mengutip QS. Al-Baqarah ayat 261, yang mengibaratkan infak di jalan Allah seperti sebutir biji yang ditanam di tanah subur bernama fii sabilillah.
”Biji tersebut tumbuh menjadi pohon dengan tujuh cabang, dan setiap cabangnya menghasilkan seratus biji serupa. Allah melipatgandakan pahala hingga 700 kali lipat bagi mereka yang ikhlas berinfak,” jelas Ustadz Luqman.
Ustadz Luqman juga mengingatkan para siswa tentang besarnya peluang pahala di bulan Ramadhan. Salah satunya adalah memberi makan orang yang berpuasa.
“Memberi makan orang berbuka membuat kita mendapat pahala puasa orang tersebut tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Jika kita mengirimkan sepuluh porsi takjil, kita tidak akan rugi, justru pahala kita berlipat ganda,” tambahnya. Hal ini juga berlaku bagi mereka yang berhalangan iktikaf namun menyediakan hidangan bagi orang yang beriktikaf.

Menjawab pertanyaan tentang cara menumbuhkan semangat berbagi di saat sulit, Ustadz Luqman menceritakan kisah heroik Perang Ahzab (Khandaq). Kala itu, Rasulullah SAW dan para sahabat berada dalam kondisi pangan yang sangat kritis hingga harus mengganjal perut dengan batu. Namun, semangat berbagi tetap ada, sebagaimana mukjizat Rasulullah yang memperbanyak makanan dari satu piring gandum untuk dinikmati bersama.
Sesuai dengan QS. Ali Imran ayat 134, tanda orang bertakwa adalah mereka yang berinfak baik di waktu lapang maupun sempit. “Tidak ada alasan ‘saya belum ada uang’, karena sedekah tidak akan mengurangi harta, justru akan bertambah,” tegasnya.
Pada sesi akhir, dijelaskan mengapa memberi terasa lebih membahagiakan daripada menerima. Menggunakan filosofi cermin, Ustadz Luqman menjelaskan bahwa kebahagiaan yang kita berikan kepada orang lain akan terpantul kembali kepada kita.
“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Kita tidak pernah tahu pemberian mana yang kelak diterima oleh Allah SWT, maka teruslah memberi,” pesannya.
Sebagai penutup, moderator menyimpulkan bahwa berbagi bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan sarana pembersihan jiwa dan investasi pahala yang menjanjikan ketenangan batin.
Selama kegiatan berlangsung, seluruh siswa Mudipat diminta untuk menyimak dengan seksama dan merangkum isi kajian di Buku Harian Ramadhan masing-masing. Harapannya, nilai-nilai kebaikan yang disampaikan dapat terinternalisasi dalam karakter siswa sehari-hari (salf/Mul)


