MUDIPAT.CO – Dengan mengusung tema “Mengadaptasi Karakter Ibrahimik dalam Zaman yang Penuh Gimik”, Pengajian Ahad Pagi Muhammadiyah (PagiMu) yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Ngagel berlangsung khidmat di SD Muhammadiyah 4 Surabaya, Ahad (17/5/2026).
Kegiatan ini menghadirkan Ust. Dr. H. Hidayatullah, M.Si., Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, serta dihadiri warga Muhammadiyah dari Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) dan ranting di bawah naungan PCM Ngagel.
Dengan suasana yang hangat dan penuh antusiasme, Ustadz Hidayatullah tampil mengenakan peci hitam dan baju bermotif cokelat. Ceramah yang disampaikan secara santai namun penuh makna itu mengajak jamaah untuk meneladani karakter Nabi Ibrahim AS di tengah kehidupan modern yang sarat pencitraan dan tren sesaat.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa karakter Ibrahimik pertama adalah memiliki tauhid yang kuat. Nabi Ibrahim dikenal sebagai sosok hanif, yaitu pribadi yang lurus dalam mencari kebenaran dan hanya menyembah Allah SWT tanpa sekutu. Proses pencarian Tuhan dilakukan melalui akal dan pengamatan terhadap alam, seperti bintang, bulan, dan matahari.
“Di tengah situasi saat ini, kita tidak boleh mudah terbawa tren. Nabi Ibrahim mengajarkan pencarian kebenaran yang substansial, bukan sekadar mengikuti arus,” ujarnya.
Karakter kedua, lanjutnya, ialah keberanian menyampaikan kebenaran dan mengoreksi kesalahan dengan santun. Nabi Ibrahim tetap berdialog secara kritis namun penuh adab saat menegur ayahnya yang menyembah berhala. Nilai tersebut dinilai relevan dengan kondisi masyarakat saat ini yang perlu berani mengkritik kebatilan tanpa kehilangan akhlak.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjauhi kemungkaran dan membiasakan kejujuran dalam kehidupan sehari-hari.
“Kalau belum mampu meneladani seluruh sikap Nabi Ibrahim, setidaknya lakukan kebaikan kecil seperti membuang sampah pada tempatnya. Kejujuran adalah pangkal keselamatan dan kebaikan,” tuturnya.
Karakter ketiga ialah konsistensi dalam keyakinan dan tindakan. Nabi Ibrahim tetap teguh meskipun menghadapi ancaman dibakar hidup-hidup. Menurutnya, keteguhan tersebut menjadi pelajaran penting agar umat Islam mampu menyelaraskan keyakinan dengan tindakan nyata di tengah dunia yang pragmatis dan oportunistis.
Selain itu, Nabi Ibrahim juga menjadi teladan dalam keluarga dan kepemimpinan umat. Pemimpin, katanya, harus mampu memberi pengaruh baik serta menjauhi perilaku buruk seperti korupsi dan nepotisme.
Pada bagian akhir ceramah, Ustadz Hidayatullah mengangkat kisah pengorbanan dan kesabaran Nabi Ibrahim AS. Mulai dari penantian hadirnya Nabi Ismail di usia lanjut, perjuangan Siti Hajar mencari air di antara Bukit Safa dan Marwah hingga munculnya Sumur Zamzam, sampai ujian perintah menyembelih Nabi Ismail yang kemudian diganti Allah SWT dengan seekor domba besar.
Menurutnya, kisah tersebut relevan dengan kehidupan masa kini, khususnya dalam menghadapi ego, ambisi popularitas di media sosial, hingga praktik bisnis yang tidak jujur.
“Kita harus mampu menyembelih ego, status sosial, dan kecanduan popularitas di media sosial. Semangat berqurban harus diwujudkan dalam kepedulian sosial dan kejujuran,” tegasnya.
Menutup kajiannya, ia mengajak seluruh jamaah untuk kembali meneguhkan nilai tauhid, integritas, dan keteladanan di tengah kehidupan modern yang penuh gimik.
“Mudah-mudahan kita semuanya punya semangat berqurban. Tidak boleh ada anak di sekitar kita yang tidak mampu bersekolah dan orang yang kesusahan. Di tengah dunia yang penuh gimik, umat Islam perlu kembali pada nilai tauhid, integritas, dan keteladanan,” pungkasnya.
(Pega Mustika)


