Thursday, July 18, 2024
spot_imgspot_img
HomeBINA AKHLAK ANANDADosen Universitas California Ini Mendorong Siswa Mudipat Menjadi Ilmuwan

Dosen Universitas California Ini Mendorong Siswa Mudipat Menjadi Ilmuwan

MUDIPAT.CO – Kontribusi pelajar Muhammadiyah untuk mengembangkan dunia adalah belajar agama dan sains dengan benar. Siswa menyumbangkan ilmu dan amal itu yang utama. Karena sains dan pengetahuan itulah bagian dari Islam.

Demikian disampaikan Prof. Muhammad Ali PhD, Penasihat PCIM Amerika Serikat pada Junior Leader Institute (JULI) Kelas VI SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya (Mudipat), Sabtu (29/1/2022). Kegiatan yang bertajuk We are The Next World Leader ini digelar di Auditorium Dien Syamsuddin SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya.

Narasumber yang langsung dari Amerika via zoom itu menegaskan, berfikir ilmiah atau scientific menjadi modal penting bagi generasi penerus agar terwujud peradaban yang baik.

“berfikirlah ilmiah, besarkan rasa ingin tahu kalian karena itu modal awal untuk menjadi ilmuwan. Mengapa ya ini terjadi? Ini apa ya? Banyak mengapa, maka rasa ingin tahu yang diberi ruang seluas-luasnya itulah modal membagun peradaban dunia,” terang dosen Universitas California, Riverside tersebut.

Lantas Ustadz Ali bercerita bahwa pada masa the golden Age of Islam, banyak para ilmuwan Islam menjadi pembuka awal peradaban ilmu pengetahuan, sejak abad 9.

“Ilmuwan muslim mempengaruhi petadaban dunia. Dulu orang luar belajar bahasa Arab untuk belajar ilmu. Sekarang terbalik. Kita yang belajara Bahasa Inggris untuk belajar banyak ilmu,” katanya.

Peserta Junior Leader Institute (JULI) Kelas VI berinteraksi dengan narasumber. (mul/mudipat.co)

Dia mengatakan, kenapa harus belajar ilmiah sejak SD? Karena itu juga bagian dari perintah agama. Agar juga anak yang belajar ilmiah sejak dini akan cepat menangkap ilmu.

“Sebab fikiran kalian masih suci masih jernih. Jadi gampang mengetahui banyak hal,” jelasnya.

Ustadz Ali mengatakan, ada 5 langkah mudah belajar saintifik. Yakni Memerhatikan, bertanya ke guru ke orang tua, menalar, lakukan percobaan, dan melakukan kolaborasi atau jaringan.

“Modal menjadi anak sukses ada 7. Yakni kenali kelebihan kita, bekerja keras, jangan pernah lemah, percaya diri, kalau ada pertanyaan harus sabar karena tak ada pertanyaan yang jelek, mengetahui spesialisasi kita sejak dini, dan terakhir melakukan kompetisi dan pengembangan diri yakni berfastabikhul khairat,” pungkasnya.

Salah satu peserta, Queeniya Abindra S. (6F) pada kesempatan itu bertanya Bagaimana dulu para ilmuwan muslim belajar, karena dulu belum ada internet. Lantas Ustadz Ali menjawab.

“Dulu belum ada internet, maka para ilmuwan belajarnya langsung ke perpustakaan. Mereka belajar di perpus. Ambil buku, dibaca, diteliti. Yang kedua mereka melakukan eksperimen. Sekarang sebetulnya lebih mudah karena ada internet. Kekurangannya hanya kita tidak suka lagi pergi ke perpustakaan.” Jelasnya.

Peserta lain, M. Aswinata Junna K. (6F) bertanya soal orang membaca buku tapi hanya 10 persen yang diingat, selebihnya menguap.

Lantas Ustadz Ali menjawab. “Belajar ya membaca ya juga melakukan. Belajar dengan cara melakukan lebih dari sekedar membaca. Setelah membaca lalu melakukan atau menerapkan itu pengaruhnya lebih Panjang,” terang Ustadz Ali. (mul)

RELATED ARTICLES

Most Popular