Tuesday, February 10, 2026
spot_imgspot_img
HomeMUDIPAT TODAYPelatihan Menulis Mudipat: Feature Jadi Penjaga Rasa Berita di Tengah Gempuran AI

Pelatihan Menulis Mudipat: Feature Jadi Penjaga Rasa Berita di Tengah Gempuran AI

MUDIPAT.CO – “Kenapa berita cepat kita lupa, tapi kisah seseorang bisa kita ingat bertahun-tahun?”

Pertanyaan itu membuka suasana Pelatihan Menulis Inspiratif di SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya (Mudipat), Jumat (6/2/2026) petang. Di tengah derasnya arus informasi, banjir konten instan, dan kecanggihan kecerdasan buatan (AI), justru pertanyaan sederhana itu berasa menohok.

“Berita menyampaikan fakta. Feature menyampaikan makna di balik fakta. Berita menjawab apa yang terjadi. Feature menjawab mengapa itu penting bagi manusia,” tegas Agus Wahyudi, Pemimpin Redaksi PWMU.CO, saat menjadi narasumber.

Agus menegaskan, feature bukan sekadar teknik menulis. “Feature bukan hanya soal teknik menulis, tapi cara kita menghormati kehidupan orang lain dengan cerita yang jujur dan bermakna. Kalau berita memberi informasi, feature memberi kehangatan,” tutur dia.

Pelatihan yang digelar Majalah Arba’a Mudipat di Laboratorium IPA ADEC lantai 4 itu diikuti 41 guru, terdiri atas pengurus Arba’a dan para kontributor. Suasana berlangsung hangat, interaktif, dan penuh antusiasme.

Dalam paparannya, Agus mengangkat realitas baru dunia jurnalistik: kehadiran AI yang mampu menulis cepat, merangkum, bahkan memproduksi berita dalam hitungan detik. Namun, menurutnya, justru di era AI dan media sosial inilah feature semakin relevan.

“Publik lelah dengan headline sensasional. Orang mencari kedalaman, bukan sekadar kecepatan. Media digital butuh konten yang punya engagement emosional,” ujarnya.

Dia menjelaskan, AI memang unggul dalam kecepatan dan pengolahan data. Tetapi AI masih memiliki keterbatasan mendasar dalam kerja-kerja jurnalistik lapangan.

“AI bisa menulis cepat. Tapi AI sulit menghadirkan detail lapangan yang autentik. AI tidak bisa membaca ekspresi, bahasa tubuh, atau menangkap konflik batin narasumber. Itu wilayah rasa. Itu wilayah manusia,” tegasnya.

Di tengah dominasi konten pendek seperti TikTok dan Reels, feature justru menjadi “konten deep reading” yang dibutuhkan. Bahkan, menurut Agus, feature dapat diadaptasi menjadi naskah video, podcast, hingga thread panjang yang viral di media sosial.

Tak hanya menyampaikan teori, Agus juga membagikan pengalaman personalnya sebagai wartawan profesional.

Dia menceritakan bagaimana tulisan pertamanya dimuat di koran saat teknologi belum secanggih sekarang. Naskah diketik menggunakan mesin tik, lalu dikirim lewat pos. “Tidak ada email. Tidak ada WhatsApp. Semua serba manual,” kenangnya.

Pengalaman itu menjadi pengantar penting bahwa teknologi boleh berubah, tetapi semangat dan daya juang seorang jurnalis tidak boleh luntur.

“Menulis itu bukan hanya soal apa yang diucapkan. Tapi apa yang kita rasakan, lihat, dan pahami di balik peristiwa,” katanya.

Dalam sesi tersebut, Agus menekankan bahwa peran jurnalis tetap vital, bahkan di tengah kecanggihan AI.

Dia mengingatkan, di tengah informasi yang dangkal dan serba cepat, masyarakat justru membutuhkan cerita yang dalam dan menyentuh hati.

“Media sosial membuat orang cepat tahu, tapi tidak selalu membuat orang benar-benar paham,” tambahnya.

Pelatihan berlangsung hidup. Peserta aktif bertanya, berdiskusi, bahkan memperdebatkan praktik jurnalistik di era digital. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul justru memperkaya materi. (Mul)

RELATED ARTICLES

Most Popular