Sebenarnya Semua Orang Tak Ada yang Mengingkari Keberadaan Allah

49
Ustadz Drs. H. Ahmad Barir,M.Si. saat mengkaji kitab Arba’in An Nawawiyah. (humamudipat)

Sebenarnya Semua Orang Tak Ada yang Mengingkari Keberadaan Allah, Liputan Muhimmatul Azizah.

MUDIPAT.CO – Kajian tafsir rutin kali ini mengupas kitab Arba’in An Nawawiyah, yang diasuh oleh Ustadz Drs. H. Ahmad Barir,M.Si., Jumat (16/9/2022). Kajian kali ini melanjutkan hadits yang kedua, yakni tentang iman. Sebagaimana diceritakan pada kajian kitab sebelumnya, Ustadz Barir mengawali kajia tafsirnya, pada suatu hari Umar Bin khattab sedang duduk-duduk bersama Rasulullah, tiba-tiba datang seorang laki-laki berpakaian sangat putih, dan rambutnya sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tidak seorang pun mengenalnya. Kemudian ia duduk dihadapan Nabi Muhammad dan bertanya tentang beberapa hal.

Pertama laki-laki tersebut bertanya tentang islam. Apa itu islam sudah dijelaskan pada pertemuan sebelumnya. Kedua, laki-laki tersebut bertanya tentang iman, ‘Jelaskan kepadaku tentang iman?’ lanjut Ustadz Barir. Nabi menjawab: “(Iman itu adalah) Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir serta engkau beriman kepada takdir baik dan buruk.” Laki-laki tersebut berkata: ‘Engkau benar.’

Menurut Ustadz Barir secara etimologi, iman berarti pengakuan. “Maka kata yang tepat bukanlah amantu fulaanan, tapi shodaqta fulaanan. Aku membenarkan,” jelas Ustadz Barir.

Lebih lanjut Ustadz Barir juga menyampaikan pengertian iman menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Iman itu berarti menerima, tunduk, dan ikhlas. Iman yang sempurna mencakup qaul (perkataan) dan amal (perbuatan), antara lahir, batin, dan perbuatan harus satu.

Dari pengertian iman tersebut di atas, menurut Ustadz Barir ada beberapa poin penting yang dapat kita perhatikan, pertama kita percaya keberadaan Allah, siapapun yang mengingkari berarti bukan orang yang beriman. Sebenarnya tidak ada seorangpun yang mengingkari keberadaan Allah. “Bahkan Fir’aun saja yang mengaku sebagai tuhan bertanya pada Nabi Musa, ‘siapa tuhan semesta alam?’, Hal ini dapat dibaca pada Surat Asy Syu’ara ayat 23,” jelasnya.

Kedua, yang berhak diibadahi hanya Allah. Tidak boleh bagi seorang muslim untuk memberikan ibadah dalam bentuk apapun kepada selain Allah. Seperti menyembelih untuk selain Allah, atau meminta kesembuhan kepada selain Allah, bersumpah dengan nama selain Allah. Ini semua bentuk pengingkaran dan penentangan kepada keimanan yang sudah kita ikrarkan.

Ketiga, beriman pada nama-nama dan sifat-sifat Allah. Keempat, beriman pada adanya malaikat-malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, dan hari akhir serta beriman kepada takdir baik dan buruk.

“Semoga dengan memahami arti iman ini membuat hati semakin mantap dengan dinul Islam,” pungkasnya.

Editor Mulyanto