Kyai Sholihin Jelaskan Kenikmatan Makanan dan Kenikmat pernikahan

28
Kyai Sholihin mengisi kajian tafsir Jum'at. (Zidan/Mudipat.co)

Kyai Sholihin Jelaskan Kenikmatan Makanan dan Kenikmat pernikahan, Liputan Muhimmatul Azizah

MUDIPAT.CO – Kajian tafsir yang rutin dilaksanakan setiap Jumat pagi, kali ini mengupas Surat Al Maidah ayat 5, Jumat (26/8/2022). Kajian tafsir untuk guru dan karyawan SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya (Mudipat) ini diasuh oleh Dr. H. M. Sholihin, S.Ag.,MPSDM.

Setelah membaca ayat ke-5 dari Surat Al Maidah beserta terjemahannya, Ustadz Sholihin, panggilan akrabnya menegaskan dari ayat tersebut menunjukkan ada dua kenikmatan yang penting. Yaitu nikmat makanan dan nikmat pernikahan.

Nikmat makanan, lebih lanjut ia menjelaskan bahwa Allah telah menganugerahkan aneka jenis makanan, seperti buah-buahan, hewan, tumbuhan dan lain-lain. Oleh karena itu manusia hendaknya makan makanan yang baik-baik, yaitu makanan yang baik dzat maupun cara mendapatkannya dengan cara yang halal.

Ia kemudian mencontohkan dengan makanan onde-onde. Onde-onde secara dzat adalah makanan halal. Namun jika mendapatkannya dengan cara mencuri maka onde-onde tersebut akan berubah menjadi haram.

Selanjutnya, Ustadz Sholihin juga menyampaikan ayat tersebut juga menjelaskan tentang dua hal, yaitu makanan ahli kitab dan menikahi ahli kitab. Siapakah ahli kitab itu? Menurutnya beberapa ulama berpendapat ahli kitab adalah orang Yahudi dan Nasrani.

Meskipun begitu, menurutnya hingga saat ini masih ada perdebatan tentang ahli kitab Yahudi-Nasrani tersebut. Bukan rahasia lagi, sebab banyak dari Yahudi-Nasrani itu menggunakan kitab yang sudah dimodifikasi. Sehingga beberapa ulama sepakat makanan ahli kitab yang boleh kita makan adalah makanan halal yang bersifat umum, seperti buah-buahan.

“Termasuk juga sembelihan ahli kitab boleh kita makan,” ujarnya. Asal memenuhi dua syarat yaitu, sebelum disembelih mengucapkan kalimat Allah dan tidak diperuntukkan untuk selain Allah. “Oleh karena Allah sudah memberi karunia nikmat makanan dan pernikahan, maka kita patut bersyukur. Hal itu dapat dilakukan dengan menggunakan nikmat Allah sebaik-baiknya,” harapnya.

Editor Mulyanto