Pagi Mengembirakan Muktamar di Solo, Malam dan Esoknya Menikmati Jogja

82

MUDIPAT.CO – Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya (Mudipat) ikut menyemarakkan Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah yang ke-48 di Solo, 18-20 November 2022. Acara yang dihadiri kader Muhammadiyah dan Aisyiyah se Indonesia. GTK Mudipat yang ikut ada 142 orang terbagi dalam 3 bus.

Kegiatan tersebut meninggalkan begitu banyak kenangan. GTK Mudipat pun turut memeriahkan acara tersebut, berangkat pada hari Jumat pukul 22.30 dan sampai kota Surabaya tercinta pada hari Minggu pukul 20.00 WIB.

Pimpinan Cabang Muhammadiyah Ngagel (PCM Ngagel) mengkoordinir keberangkatan dan kepulangan beberapa sekolah Muhammadiyah se cabang Ngagel, ada SMAMDA, SPEMMA, dan SD Muhammadiyah Kreatif serta pengurus Aisyiyah.

Melihat ibu-ibu Aisyiyah yg notebene-nya tidak muda, membuat kami bersemangat menghadiri acara muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah, meski harus numpang sholat subuh di mushola Koramil Surakarta maupun di masjid sekitar.

Agar dapat sampai ke tempat acara muktamar tersebut, kami harus berjalan kaki menempuh berkilo-kilometer jauhnya karena bis harus parkir jauh dari tempat acara muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah. Lelah tak kami rasa karena jiwa Muhammadiyah telah bersarang di dada kami.

Setelah acara selesai kami pindah kota yakni ke kota Yogyakarta, menikmati hiruk pikuk Malioboro sambil mengenang jalan-jalan di kota tersebut. Mumpung masih di kota Yogya, pada Minggu pagi kami juga berkesempatan mengunjungi Monumen Yogya Kembali yg dikenal dengan Monjali (Monumen Jogja Kembali).

Monjali didirikan untuk memperingati peristiwa berfungsinya kembali kota Yogyakarta sebagai ibu kota Republik Indonesia yang direbut dari penjajah Belanda, monumen ini digagas oleh bapak kolonel Soegiarto, dan diresmikan oleh presiden Soeharto pada tanggal 6 Juli 1989.

Selesai menikmati sarapan pagi di hotel Merapi Merbabu, kami yang terdiri dari beberapa guru putri menuju Monjali by grab. Sampai di Monjali, kami di stop sama security “maaf bu belum boleh masuk karena buka-nya pukul 08.00”, sepuluh menit kemudian baru kami dipersilahkan masuk setelah membeli tiket Rp 15.000 per orang.

Saking semangatnya, kami langsung berburu mendokumentasikan berbagai tempat di museum tersebut. Tata letak Monjali tidak jauh berbeda dengan Monumen 10 November Surabaya, hanya saja museum ini bentuknya menyerupai tumpeng.

Di sana kami bisa menikmati koleksi museum yang berjumlah 1.108 terdiri dari heraldika, miniatur, replika kendaraan, senjata api, senjata tradisional, foto dokumentasi, alat perhubungan angkatan darat, alat kesehatan, inventaris, patung peraga, arsip, daftar nama pahlawan, relief, diorama, dan evokatif. Melihat kami yang bersemangat mengabadikan foto, salah satu petugas museum membidik kami yang asyik berpose.

“Monggo berpose sambil bawa properti bu” demikian ucap pegawai museum tersebut. Langsung aja kami ambil beberapa properti dan mencari tempat berpose lagi, dan “klik” jadilah foto kebersamaan kami. Tak lengkap jika kami belum beli oleh-oleh Yogya yang terkenal yakni, Gudeg Yu Jum dan bakpia kukus yang empuk dan lezat di lidah. (etik/mul)