InsyaAllah Siswa Ekskul Menulis Segera Punya Buku Antologi Cerpen

99
Siswa ekskul menulis tampak serius menulis untuk menjadi buku antologi cerpen. (humasmudipat)

MUDIPAT.CO – Valerian Syachnanda Aryanova (kelas 6D), Aqeela Shamina Laksono (kelas 3H), dan beberapa rekannya, tepat pukul 08.00 sudah duduk mantap menghadap layar monitor di laboratorium Komputer TMB lt. 2 SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya (Mudipat), Sabtu (1/10/2022).

Mereka siap menulis cerita pendek (cerpen) bertema fantasi. Siswa-siswi peserta ekskul menulis ini bersemangat untuk membikin satu buah buku antologi cerpen. Sebelum menulis Valen—sapaan akrab Valerian—dan juga kawan-kawannya tampak komat-kamit membaca basmalah dan doa. Mereka nampak bersemangat pagi itu untuk menulis.

Sebetulnya ada 15 penulis semuanya. Namun karena bareng dengan kegiatan lain maka ada tidak hadir. Tapi niat telah diikrarkan untuk menulis satu buku antologi cepen. Semoga proses editingnya lancar dan buku segera tersuguhkan ke khalayak.

Valen menyampaikan dirinya senang bisa berkontribusi dalam menulis cerpen yang diproyeksikan menjadi satu buku. Dia berharap karyanya bisa bermanfaat.

“Semoga karya saya menginspirasi yang baca. Saya bercerita tentang petualangan, aksi, dan fantasi. Harapan saya banyak orang membaca cerita saya,” ujar siswa tampan berkacamata itu.

Sama dengan Valen, Aqeela pun merasa bangga dan bahagia bisa berkontribusi untuk menulis buku antologi. Siswi cantik imut kelas tiga itu pada kesempatan baik itu menulis petualangan kucing dan tikus.

“Aku cerita tentang kucing yang akhirnya berteman dengan tikus. Semoga buku kami nanti jadi bagus banget bagus dan banyak yang beli,” ujar Aqeela yang suka bercita-cita menjadi dokter itu.

Pembina Ekskul menulis SD Mudipat Mulyanto mengatakan menulis adalah cara lain untuk memperpanjang umur. Karena menulis adalah hidup yang sejati. Dia lantas mengutip kalimat fenomenal dari Pramoedya Ananta Toer. Bahwa sepintar apa pun seseorang jika tidak menulis maka ia akan lenyap dari sejarah dan zaman. Sebab menulis adalah kerja keabadian.

“Misalnya Pak BJ Habibi, jika beliau wafat dan tidak pernah menulis buku, maka ilmunya akan ikut terkubur. Namun karena beliau menulis, maka abadilah beliau sampai saat ini. Siapapun kalau menulis pasti hidupnya bermakna,” ujarnya memberi contoh.

Sementara itu, kepala SD Mudipat Ustadz Edy Susanto MPd mengatakan, SD Mudipat mendukung sepenuhnya untuk kegiatan literasi siswa. Karena sesungguhnya menurutnya literasi adalah jantungnya Pendidikan.

“Target kami setiap semester terbit minimal satu buku karya siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler menulis,” terangnya.

Ditambahkan, bahwa buku adalah bukti sejarah. Buku adalah catatan bahwa seseorang pernah hidup di dunia dan mengabadikan setiap jengkal perjalanan hidupnya menjadi sebuah buku.

“Apalagi anak-anak kita dengan menulis pasti menuangkan imajinasinya. Setiap karya pasti akan menemukan takdirnya sendiri. Insya Allah dampak dari menulis ini luar biasa,” pungkas peraih juara 1 Kepala Sekolah Berprestasi itu. (mul)