Petinggi Muhammadiyah Surabaya dari Masa ke Masa Bahas Ini di MSF 2021

75
Dari kiri, KH Syaifuddin Zaini, KH Mahsun Jayadi, KH Hamri Al Jauhari, KH Zayyin Cudlori, dan Dr Ariwibowo di MSF 2021. (mul/mudipat.co)

MUDIPAT.CO – Empat ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya dari berbagai periode bertemu dalam Muhammadiyah Surabaya Forum (MSF) 2021 di Auditorium Din Syamsuddin TMB SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya, Selasa malam (23/11/2021). Mereka saling berbagi kisah dengan gayeng di acara bertajuk Photographing Reflecting, and Sinergyng the Actions (Potret, Refleksi, dan Sinergi Aksi) tersebut.

Keempat ketua PDM itu adalah (dari yang paling terdahulu) KH Syaifuddin Zaini, KH Zayyin Cudlori KH Mahsun Jayadi, serta ketua PDM saat ini KH Hamri Al Jauhari.
Diskusi itu juga dihadiri pengamat sosial politik Unair Surabaya Dr Ariwibowo MS. Adapun pemandu acaranya duet M. Syaikhul Islam dan Ferry Yudi AS.

Ketua PDM Kota Surabaya Drs Hamri Al Jauhari MPdI dalam sambutannya mengatakan, milad tahun ini yang dilaksanakan PDM Kota Surabaya benar-benar luar biasa. Ada rangakaian Gowesmu, MSF 2021 kerja sama dengan Mudipat sat ini, hingga agenda pemungkas Tabligh Akbar 26 November mendatang.

KH Syaifuddin Zaini yang didapuk jadi pembicara pertama menyampaikan, saat ini dirinya termasuk pengurus PDM yang paling lama, sejak tahun 1985 sampai sekarang.

Zaini menambahkan, perkembangan cabang di Surabaya saat ini sudah luar biasa. Setiap cabang sudah ada pengurusnya. Perguruan Muhammadiyah juga sudah merata di masing-masing cabang.

Namun, ia ingin ada gerakan memuhammadiyahkan Muhammadiyah. Maksudnya bagaimana? “Banyak yang sudah Muhammadiyah, tapi belum paham Muhammadiyah,” katanya.

Karena itu, tidak ada cara lain selain pengajian. Karena hidupnya Muhammadiyah itu dari pengajian, “Kalau tidak menguri-uri tarjih, berarti mengkhianati KH Mas Mansur (ketua pertama PDM Surabaya, Red),” tegasnya.

KH Zaini lantas membeberkan beberapa sifat kader Muhammadiyah.
Pertama adalah lapang dada dan menghidupkan toleransi. Karena itu, kader Muhammadiyah harus luas pandangannya. “Agar luas pandangan, harus teguh dengan ajaran Islam,” katanya.

Sifat lainnya adalah adil. Adil artinya bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya. Juga korektif ke dalam dan ke luar.

Sementara itu, KH Mahsun Jayadi menjelaskan, kita semua melihat dan merasakan kebesaran Muhammadiyah dan kebesaran itu bukan karena back up dari rezim atau apa. Lebih kepada kemandirian dan karena keikhlasan pimpinan dan warganya. Meski begitu, Mahsun menyebut ada sesuatu yang hilang dan itu perlu kita ambil kembali.

Pertama, nilai-nilai spiritualitas atau bahasa lainnya tasawuf. Ini pernah dibawa di pengajian di PP Muhammadiyah. Istilah tasawuf memang tidak populer di Muhammadiyah, tapu nilainya ada, yaitu ihsan.

Kedua, zaman Ahmad Dahlan ada kebiasaan nyantri. Minta ilmu dari junior ke senior. “Ini hampir hilang di Muhammadiyah karena gerakan modern dan sifat egaliter jadi kebablasan. Ini agak kebablasan. Hilangnya unggah-ungguh,” ujarnya.

Ketiga, dulu ketika Muhammadiyah berdiri menghadapi TBC, maka sekarang ada sepilis (sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme). “Karena itu, Muhammadiyah memosisikan diri sebagai penggerak Islam washatiyah, Islam yang tengahan, tidak ekstrem kanan dan kiri. Tidak liberal maupun radikal,” ujarnya.

Sementara itu, Dr Ariwibowo MS menekankan bahwa Muhammadiyah harus betul-betul solid. Jangan mencari kelemahan yang kecil-kecil.

“Jangan pernah menghamba kepada pemimpin politik mana pun. Karena Muhammadiyah itu organisasi otonom. Mari kita mandiri,” terang dosen yang juga kader Muhammadiyah itu.

“Konsep gerakan Muhammadiyah adalah kolektivisme. Gerakan sosial dibarengi dengan rasa emosional,” tandasnya. (mul/AS)