MSF 2021: Memotret, Merefleksi, dan Bersinergi Aksi untuk Kedigdayaan Islam Berkemajuan

81
Inilah Muhammadiyah Surabaya Forum (MSF) 2021, Selasa malam (23/11/2021). (mul/mudipat.co)

MUDIPAT.CO – Pimpinan Daerah Muhammadiyah bersama SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya (Mudipat) menghelat acara luar biasa. Yakni Muhammadiyah Surabaya Forum (MSF) 2021. Agenda dalam rangka Milad 109 Muhammadiyah itu mengusung tema Photographing, Reflecting, and Sinergyng the Actions (Potret, Refleksi, dan Sinergi Aksi), digelar di Auditorium TMB, Selasa malam (23/11/2021).

Hadir dalam agenda itu para ketua PDM Kota Surabaya dari berbagai periode. Seperti KH Syaifuddin Zaini, KH Zayyin Cudlori, KH Mahsun Jayadi, serta KH Hamri Al Jauhari. Ada juga Dr Ariwibowo, pengamat sosial politik Unair.

Ketum PP Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir MSi menjadi keynote speaker MSF 2021. (mul/mudipat.co)

Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir MSi menjadi keynote speaker (pembicara kunci) dalam agenda Prof Haedar menekankan beberapa hal terkait dengan refleksi Milad Ke-109 Muhammadiyah ini. “Ketika merayakan milad, kita sesungguhnya sedang berefleksi. Kita sedang bermuhasabah tentang kelahiran, pertumbuhan, dan perkembangan Muhammadiyah di usia ke-109 tahun,” katanya yang hadir secara daring dari Yogyakarta.

Ketua umum menambahkan bahwa warga Persyarikatan perlu merenungkan kembali secara mendalam dan luas kenapa Muhammadiyah itu lahir dan kenapa oleh pendirinya, KH Ahmad Dahlan, memberi nama Muhammadiyah.

“Mengapa Muhammadiyah mengambil misi khusus dakwah dan tajdid. Mengapa juga bergerak untuk peran kebangsaan. Dan kenapa Muhammadiyah mampu berusia 109 tahun yang jadi salah satu ormas Islam tertua di Indoneisa,” tanyanya retoris.

Haedar lantas mengutip pendapat Yunus Anis, KH Sudja’, dan tentu saja KH Ahmad Dahlan, Muhammadiyah lahir karena yang paling utama kaum muslim saat itu tertinggal dan terjajah, khususnya masalah muamalah seperti pendidikan, sosial, ekonomi, dan politik.

“KH Dahlan lantas mencari jalan baru. Kondisi itu memang harus diubah. Islam itu ya’mu wala yu’la alaihi. Pemeluk Islam terlalu jumud lalu menyandera dan membikin Islam berdebu. Islam terkerangkeng tidak maju. Maka lahirlah Muhammadiyah itu,” paparnya.

Kedua, kenapa memilih nama Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan ingin mengimplementasikan secara konkret dan nyata dalam konteks zaman kekinian. Islam harus disambung dari nabi. Umat Islam harus melanjutkan misi rahmatan lil alamin dengan membangun peradaban dan menyempurnakan akhlak.

“Orientasi Ahmad Dahlan jangka panjang. Yakni ingin menyambung mata rantai arruju ilal Quran wassunah dan dibarengi tajdid. Kita bukan pengikut Islam yang mundur ke belakang dalam tradisi kecil. Kita harus maju dengan tradisi besar. Muhammadiyah juga bersifat proaktif, bukan reaktif,” katanya.

“Muhammadiyah ingin mereproduksi kejayaan Islam,” tegas Haedar.

Menurut Haedar, Alquran isinya luar biasa. Sebagai kitab untuk seluruh umat dan zaman. Karena itu pemahaman kita harus bayani, burhani, dan irfani. “Maka, dibutuhkan orang-orang di atas rata-rata. Muhammadiyah itu orangnya pilihan di atas rata-rata,” tegasnya.

Dalam kaitan dengan refleksi Milad Ke-109 Muhammadiyah, Haedar Nashir mengingatkan warga persyarikatan agar selalu menjunjung tinggi komitmen. Kalau bisa lebih hebat dari periode awal Muhammadiyah. Warga Muhammadiyah harus semakin paham mendalam dan luas tentang muhammadiyah. Juga paham mendalam tentang kemasyarakatan, keumatan, dan kemanusiaan secara global.

“Baca lagi pikiran Muhammadiyah lewat KH Dahlan. Baca lagi Mukadimah, Khitah, dan Matan Keyakinan serta Pedoman Hidup Islami. Ada juga dakwah kultural, Indonesia berkemajuan. Ada lagi dakwah komunitas dan yang terbaru negara Pancasila darul ahdi wa syaadah,” tandasnya. (mul/AS)