Pengajian Katam Mudipat, Ustadz Hamri: Tanamkan dalam Jiwa Anak-Anak Islam Lebih Mendalam

35
Ustadz Hamri Al-Jauhari berceramah dalam pengajian Katam seri ke-1. (anang/mudipat.co)

MUDIPAT.CO-Syukur itu menggunakan nikmat untuk taat pada Allah. Kita diberi sehat, kita gunakan nikmat kesehatan itu untuk sarana taat pada Allah.

Demikian disampaikan Ustadz Drs. H. Hamri Al-Jauhari, M.Pd.I., Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya periode 2021-2022, dalam pengajian Katam (Kajian Agama dan Tarjih Muhammadiyah) seri ke-1 pada Sabtu (9/10/2021) di auditorium Din Syamsuddin SD Muhammadiyah 4 Surabaya atau mudipat. Pengajian diikuti guru dan karyawan mudipat.

Ustadz yang juga dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya itu mengatakan banyak orang yang baru merasakan nikmat sehat ketika sakit. “Nikmat yang diberikan Allah pada kita itu luar biasa, kita tidak pernah bisa menghitung nikmat Allah. Tapi kadang-kadang orang itu tidak tahu diri, tidak bersyukur apa yang dimiliki, apa yang dirasakan, padahal itu sebenarnya nikmat dari Allah,” tuturnya.

Orang itu lupa, lanjutnya, bahwa dulu ketika lahir tidak membawa apa, bahkan seutas benang pun tidak. Sekarang sudah punya rumah, punya mobil, punya ini, punya itu, maka harus bersyukur.

Ustadz Hamri menjelaskan, dalam surat Ar Rahman, surat ke-55, terdiri dari 78 ayat. Allah berkali-kali mengingatkan bahwa manusia harus bersyukur. Dalam surat itu ada satu ayat diulang sebanyak 31 kali yaitu “fabi ayyi aalaaa’i rabbikumaa tukazzibaan”.

“Dalam ayat itu, Allah bertanya pada jin dan manusia, tunjukkan mana nikmat Tuhanmu yang engkau dustakan,” sambungnya.

“Menurut tafsir dari almarhum Allahyarham Bapak Abdurrahim Nur, mantan ketua PWM Jawa Timur, beliau menafsirkan ayat “fabi ayyi aalaaa’i rabbikumaa tukazzibaan”, nikmat Tuhanmu mana yang masih kurang,” katanya.

Lebih lanjut, ustadz yang melanjutkan sisa periode kepemimpinan ustadz Mahsun Jayadi itu menerangkan tentang pengertian agama.

“Menurut Majelis Tarjih Muhammadiyah agama adalah apa yang disyariatkan oleh Allah kepada Nabi dan Rasul yang berupa perintah-perintah, larangan-larangan, dan petunjuk-petunjuk untuk kemaslahatan kebaikan manusia di dunia dan akhirat,” terangnya.

“Islam itu untuk menyelamatkan kita, kita bersyukur ditakdirkan Allah beragama Islam, walaupun Islam struktural, Islam turunan, Islam karena orang tua kita Islam. Bayangkan kalau kita ditakdirkan beragama selain Islam,” tuturnya.

Kemudian, ustadz Hamri berpesan agar guru atau orang tua menanamkan Islam kepada anak-anak sejak dini. “Panjenengan kan sehari-hari berhadapan dengan murid-murid, tanamkan dalam jiwa anak-anak Islam lebih mendalam, agar sejak kecil Islam merekat di hati mereka,” tandasnya.

“Kita ini kebanyakan hafal surat-surat dalam Al Quran sejak kecil karena diajarkan di sekolah. Seandainya sejak kecil dulu kita tidak diberi hafalan, mungkin sekarang ini kita tidak hafal surat-surat dalam Al Quran,” ujarnya.

“Saya titip, selaku ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Surabaya, tanamkan pada anak-anak bahwa Islam itu “Al Islamu ya’lu wa laa yu’la alaih” yang artinya adalah Islam selalu unggul dan tidak akan pernah diungguli oleh agama lainnya,” katanya.

Ustadz Hamri menerangkan, sekarang beredar paham yang namanya pluralisme, yang menganggap semua agama itu sama, semua agama benar, semua agama bisa masuk surga. “Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah mengeluarkan fatwa tahun 2005 bahwa paham sepilis (sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme) haram,” katanya.

“Jadi, sekali lagi saya titip pesan, tanamkan betul-betul dalam jiwa anak-anak, Islam itu agama yang benar, Islam agama yang sempurna, Islam agama yang diridhoi Allah,” pesannya. (Anang)