The 9th Access Mudipat, Atase Pendidikan KBRI Australia: Anak Dibentuk Lewat Fisiknya Kemudian Jiwanya

38
Ustadz Imran (kanan) pada Accees Mudipat. (humasmudipat)

MUDIPAT.CO – SD Muhamamdiyah 4 Pcuang Surabaya menggelar The 9th Access (Academic Enlightening Session) secara virtual, Sabtu (17/7/2021). Acara yang tema “Muhammadiyah School Face a Changing Vision of Education in the Information Age” tersebut diikuti seluruh guru dan karyawan Mudipat.

Hadir dalam kesempatan baik itu, Ustadz Drs. Ec. H. Ezif Fahmi Wasi’an, Ak. (Wakil Ketua PDM Kota Surabaya) memberi Opening Speech, Ustadz Drs. H. M. Naim, M.Pd. (Pakar Pendidikan) sebagai Narasumber dan Kepala Sekolah M. Syaikhul Islam, MHI memberi sambutan.

Sementara itu sesi keynote speech pada The 9th Access hybrid kali ini adalah M. Imran Hanafi, MA, M.Ec., Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI di Canberra Australia. Selama satu jam, ia menyampaikan dengan apik materi tentang Kerangka Pembangunan SDM dalam Rangka Era Disrupsi.

Ia mengawali materi dengan dengan mengajak peserta ACCESS untuk berinstropeksi bahwa pademi Covid-19 telah mengubah cara belajar, seperti belajar menjadi online. Bahkan kehidupan manusia juga berubah, misalnya pesan makan bisa lewat online, berinteraksi online, dan sebagaianya.” Kita dipaksa untuk beradaptasi dengan keadaan baru. Jika tidak beradaptasi, maka akan tertinggal”, tuturnya.

Ia melanjutkan termasuk dalam hal pembelajaran, juga terjadi perubahan. Karena itu hal yang dapat dilakukan adalah meneguhkan pijakan dasar. Ini dapat dilakukan dengan cara mengundang psikolog atau ahli untuk membicarakan apa dan bagaimana secara dasar yang dibutuhkan oleh anak didik dalam pembelajaran sesuai dengan tingkat perkembangan anak.

“Sejatinya pendidikan adalah sebuah investasi jangka panjang untuk mereka meraih kesuksesan di masa mendatang, karena itu harus direncakan secara matang,” terangnya.

Selanjutnya hal yang dapat dilakukan lagi selain merumuskan pijakan dasar adalah memilih metode yang tepat, seperti STEAM education.

“STEAM education adalah metode pembelajaran Science, Technology, Engineering, Arts, Matematics yang dapat membuat anak lebih berpikir kritis, mampu memecahkan masalah, mudah beradaptasi, dan berkomunikasi,” katanya.

Menurutnya dengan metode ini tingkat kreativitas anak dapat meningkat, selain juga dapat mendorong anak untk memiliki wawasan global, kreatif, mengembangkan kemampuan emosi, intelektual dan social, serta berkontribusi positif terhadap lingkungan dan budaya.

Tidak lupa ia juga menunjukkan beberapa cara belajar anak-anak di Jepang dan Australia. Menurutnya hampir semua sekolah di Jepang memiliki jogging track. Sementara di Australia dalam gambar tersebut terlihat bagaimana mereka belajar. Mereka belajar tidak duduk manis, tapi diajak berkreatifitas dan bergerak. Cara belajar mereka adalah aktif. Menurut Imran basic pembentukan karakter dapat dilakukn lewat permainan.

“Anak dibentuk lewat fisiknya, kemudian jiwanya. Dengan bermain anak tidak takut untuk jatuh, berani, dan sportif. Fungsi sekolah adalah menyalurkan jiwa anak, dengan bermain yang memberi bermanfaat dan menumbuhkan hal positif. Oleh karena itu olah raga menjadi utama”, ucapnya.

Di akhir sesi ia menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak bisa digantikan oleh teknologi, keduanya itu saling melengkapi.

“Teori saja tidaklah cukup, oleh karena itu learning by doing adalah keharusan”, ucapnya mengakhiri. (azizah/mul)