Pemuda dan Empat Tipikal Manusia Menurut Sherly Annavita Rahmi

116
Influencer Sherly Annavita saat memberi materi acara JuLI

MUDIPAT.CO – Pemuda dan empat tipe manusia dipaparkan dalam acara Junior Leaders Institute (JULI) Batch#3. Acara diselenggarakan SD Muhammadiyah 4 Surabaya secara virtual menggunakan aplikasi Zoom Cloud Meeting, Jum’at (5/2/2021). Diikuti siswa siswi kelas 6.

Hal itu dipaparkan panjang lebar oleh salah satu Milenial Influencer Indonesia Sherly Annavita. Pemuda, adalah masa depan. Memanfaatkan kesempatan untuk mencapai kesuksesan, karena rumus sukses adalah kesempatan ditambah kesiapan. Teman-teman sudah memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan, tinggal seberapa kesiapan yang dimiliki.

“Kata Malcolm X, masa depan adalah milik mereka yang mau mempersiapkan hari ini. Selama mau mempersiapkan hari ini dengan kerja keras dan kerja cerdas, maka kita semua mempunyai kesempatan yang sama untuk melihat masa depan. Apa yang sudah dipersiapkan sekarang itulah akan menentukan sukses, sebelum masuk usia senja,” papar dara kelahiran Lhokseumawe itu.

Menurut Sherly ada empat tipe manusia, yaitu pesimis, realistis, optimis, dan progresif. Pertama tipe manusia pesimis. Tipe manusia yang memandang segala sesuatu dengan ‘ah’. Bagaimana melihat tahun-tahun ke depan dengan ‘ah’.

“Ah itu yang pintar-pintar saja, saya nanti saja. Senang-senang saja dulu,  masa depan urusan belakangan,” kata lulusan Universitas Paramadina ini.

Tipe kedua, sambungnya, adalah tipe realistis. Memandang semuanya sesuai kondisi yang ada. Tipe ini selalu memakai kalimat ‘apa kata orang’. Ia selalu dibentuk oleh kata orang dan oleh lingkungan.

“Ketiga adalah tipe optimis, yakni orang yang selalu memandang dengan sudut pandang positif. Hidup di masa pandemi tidak menjadi berkecil hati tapi justru melahirkan para pemenang,” jelasnya.

“Banyak orang berkata ini impossible, tidak mungkin, tapi saya akan membuktikan,” imbuh lulusan Hukum dan Bisnis Swinburne University, Melbourne, Australia ini.

Tipe keempat adalah tipe progresif. Optimis saja tidak cukup, tapi harus progresif. Di tangan orang progresif inilah selalu muncul ide-ide baru, cara-cara baru. Hanya dua hal yang akan lahir dari orang progresif yaitu perubahan dan pembaharuan.

“Posisi yang pantas untuk pemuda minimal optimis. Nah pelan-pelan mari meningkatkan diri menjadi progresif,” tegas Sherly.

Sherly menegaskan anak muda harus terus berubah, karena orang yang tidak berubah pelan-pelan akan tertinggal, dan akhirnya mati. Menurut Bob Sadino ada lima takut yang menghantui pemuda. Yaitu takut gagal, takut dikritik, takut apa kata orang, takut berubah, dan takut meninggalkan zona nyaman.

Sherly menerangkan standar baik manusia dibedakan menjadi empat. Pertama baik, good. Baik saja tidak cukup, harus meningkat ke standar kedua yaitu lebih baik, better. Jika kesuksesan bisa didapat dari kesempatan ditambah kesiapan, maka tidak cukup menjadi baik saja tapi harus lebih baik.

Namun lebih baik saja tidak cukup harus menjadi yang terbaik di bidangnya. Ternyata, menurutnya, menjadi yang terbaik saja juga tidak cukup, maka harus naik lagi menjadi excellent. Menjadi yang terbaik di bidangnya dan bisa merangkul banyak orang agar bisa seperti dirinya. Bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi untuk orang lain.

“Bill Gates sudah menjadi orang terkaya, tapi ia merasa tidak cukup memberi manfaat sehingga Ia mendirikan Bill Gates foundation agar lebih banyak memberikan manfaat bagi orang lain,” tuturnya.

Sherly mengatakan BJ Habibie sudah sangat genius, sudah bisa membuat pesawat, tapi Pak Habibie masih merasa kurang, karena itu ia mendirikan The Habibie Center untuk menciptakan Habibie-Habibie muda di Indonesia.

Dia menegaskan anak muda jangan hanya jadi pemuda eksklusif, hanya berfikir tentang dirinya sendiri, tidak berfikir untuk orang lain. Ganti kata saya dengan kita, ini akan membuat semua orang tidak punya alasan untuk ambil bagian dalam perubahan.

Menurut Sherly ada dua teori perubahan yang terkenal yaitu revolusi dan evolusi. Perubahan secara revolusi adalah perubahan secara cepat.

“Kata kuncinya adalah kecepatan. Sekarang kita berada di industri yang menghighligt kecepatan. Siapa yang terlambat akan ketinggalan.  Semua manusia diciptakan dengan hardware yang terbaik, yang membedakan adalah software atau ilmu. Kualitas manusia tergantung pada ilmunya atau sofwarenya. Bagaimana kita menginstall software itu,” terangnya.

“Kecepatan mengalahkan yang lambat. Siapa yang lebih cepat mengeksekusi gagasan maka dia akan jadi trendsetter. Habiskan jatah kegagalan saat muda sehingga tidak ada lagi alasan untuk tidak sukses di masa depan,” tambah Sherly.

Dara kelahiran 1992 itu menjelaskan, seorang sukses tidak dilihat dari berapa jumlah gagalnya. Seorang sukses dilihat dari pilihan sikapnya saat gagal. Memutuskan menyerah atau bangkit. Kalau menyerah berarti selesai. Kalau bangkit masih ada peluang untuk jadi pemenang.

Teori perubahan yang kedua, dia melanjutkan, adalah evolusi, berubah dengan pelan-pelan. Hanya terjadi pada manusia yang memiliki kecerdasan paling tinggi, yaitu adversity question atau daya tahan, daya juang dalam mempertahankan sesuatu yang kita putuskan selama standarnya baik dan benar. Baik belum tentu benar. Benar belum pasti baik.

Berubah itu mudah, tapi bertahan itu sulit. Apa yang dia lihat apa yang didengar bisa merubah keputusan di lain hari.

Perdana Menteri pertama perempuan di Inggris, Margaret Thatcher mengatakan, perhatikan pikiran kita karena dia akan menjadi perkataan. Perhatikan perkataan kita karena itu akan jadi tindakan. Perhatikan tindakan kita karena itu akan jadi kebiasaan kita. Perhatikan kebiasaan kita karena akan jadi karakter. Perhatikan karakter kita karena itu akan jadi takdir. Jadi apa yang kita pikirkan, demikian takdir kita.

“Urusan kun fayakun adalah hak Maha Kuasa. Urusan manusia adalah berusaha semaksimal mungkin,” tandasnya. (Anang)