Obat Penat Siswa Kelas 3, Kak Say Mendongeng Nabi Ibrahim Mengayunkan Pedangnya ke Leher Nabi Ismail

153
kak Say berdongeng dipandu Ustadzah Azizah. (humasmudipat)

MUDIPAT.CO – Banyak manfaat yang diperoleh anak melalui cerita atau dongeng. Anak bisa belajar tentang nilai-nilai kebaikan. Selain itu mendongeng juga meningkatkan kemampuan untuk berpikir kritis, daya imajinasinya berkembang, dan menumbuhkan minat baca. Anak belajar untuk mengekspresikan perasaan dan berempati, bagaimana cara menghargai dan menghormati orang lain, serta mendorong untuk bersikap positif. Yang tidak kalah pentingnya di tengah pembelajaran online, mendongeng bisa menjadi ice breaking kejenuhan dalam belajar.

Menyadari banyaknya manfaat mendongeng tersebut, SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya (Mudipat) membuat program Mudipat Mendongeng, Rabu (29/7/2020). Acara ini bisa diikuti langsung via Zoom, Facebook, dan Youtube (Mudipat TV). Tidak main-main kegiatan ini mendatangkan pedongeng handal dari Rumah Dongeng Jawa Timur, Syaiful Ustadhi.

Acara ini pun terbagi menjadi tiga sesi. Sesi pertama Kelas III Pukul 08.00-09.00, Tema: Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail AS, dengan pemandu Ustadzah Muhimmatul Azizah. Sesi kedua Kelas 1 Pukul 09.30-11.00, Tema: Lahirnya Rasulullah, dipandu oleh Ustadzah Ika Lukita. Sedangkan sesi ketiga untuk kelas II Pukul 12.45–14.00, Tema: Kambing Qurban, Pemandu Ustadzah Erfin Walida Rahmania.

Pada kesempatan istimewa itu, di sesi pertama Kak Say, panggilan akrabnya menceritakan dengan apik dan menarik tentang kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail AS. Kedua Nabi yang merupakan Ayah dan anak. Siswa sangat antusias, apalagi saat mendongeng selalu disisipi hal-hal yang lucu dan berinteraksi langsung dengan siswa meski hanya lewat zoom.

Cerita diawali dari bagaimana penantian Nabi Ibrahim setelah puluhan tahun tidak dikarunia keturunan. Hingga lahirlah Nabi Ismail, namun saat menginjak remaja Allah memerintahkan untuk menyembelihnya. Dengan mantap dan senang, Nabi Ismail menyambut perintah Allah tersebut.
Ia dengan senang hati berkenan untuk disembelih, jika itu perintah Allah. Setelah persiapan sudah matang, mereka berdua mengatur siasat. Siasat itu bertujuan agar Siti Hajar, Ibu dari Nabi Ismail supaya tidak sedih dan mengizinkan mereka pergi.

Maka, ketika Ismail yang nampak ganteng dengan pakaian yang bersih dan rapi ditanya oleh Ibunya hendak kemana. Ia dengan tersenyum menjawab hendak jalan-jalan dengan ayahnya. “Tidak ada raut kesedihan maupun keraguan, wajahnya sangat senang dan bahagia,” cerita Kak Say.

Menurut Kak Say kita boleh bersiasat atau mengatur strategi dalam kebaikan. Ia memberi contoh saat mengerjakan tugas dari guru yang agak sulit, kita boleh saling bekerjasama dengan belajar bersama. Yang sudah bisa memgajari yang belum bisa. Namun kita tidak boleh kompromi dalam keburukan. Misalnya saat ulangan bertanya jawaban kepada teman. “Nomor tiga jawabannya apa ya? Dan seterusnya,” ia mencontohkan.

Kemudian mereka sampai di suatu tempat, yang akan dijadikan untuk menyembelih. Berkali-kali setan datang dan menggoda mereka untuk membatalkan perintah Allah tersebut. Namun mereka tidak gentar, dan melempari setan dengan batu.

Akhirnya, Nabi Ibrahim benar-benar mengayunkan pedangnya ke tubuh Nabi Ismail. Kemudian digantilah tubuh Nabi Ismail dengan seekor domba oleh Allah. Dari peristiwa itulah awal mula perintah berqurban.

Di akhir cerita Kak Say menegaskan bahwa Allah memerintah Nabi Ibrahim untuk menyembelih Nabi Ismail hanya ingin menguji ketakwaan mereka.

“Karena itu siapa yang mau menjadi orang yang beriman dan bertakwa, maka harus mematuhi perintah Allah. Salah satu perintahnya adalah berqurban,” ujarnya.

Semoga dengan cerita tersebut semakin meningkatkan iman dan takqwa kita. Semoga siswa Mudipat menjadi anak yang sholih-sholihan seperti akhlak Nabi Ismail AS, amin. (Azizah)