Sisi Positif Sekolah Online: Siswa di Korea Selatan dan Mataram, Juga Siswa Pakai Infus Tetap Bisa Sekolah

258
Diandhari sedang mengenakan infus sambil sekolah online. (foto dokpri ortu)

MUDIPAT.CO – Sudah dua pekan pembelajaran secara daring berlangsung di SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya (Mudipat). Banyak cerita mewarnainya. Banyak siswa aneka kondisi di depan layar monitor setiap harinya.

Terlebih di Mudipat, 1550 siswa dengan berbagai latar belakang yang beragam. Selalu saja punya cerita yang beragam pula.

Sekolah daring ini punya sisi negatif dan positifnya. Salah satu sisi positifnya siswa di manapun berada bisa mengikuti belajar. Karena online. Meski siswa tersebut tidak di Surabaya. Bahkan siswa Mudipat saat pendemi seperti ini banyak yang mengikuti orang tua dinas dan tinggal di luar daerah yang menurut mereka lebih aman dari pada Kota Surabaya.

Radaev Wilfi Talib di Mataram NTB (foto dokpri ortu)

Salah satu contohnya Radaev Wilfi Talib. Siswa tampan kelas III-C (Beirut) itu sejak awal mengikuti daring dari Mataram, Nusa Tenaggara Barat (NTB). Meski berada di tempat yang jauh, ia tidak ada kendala. Saat pembelajaran dengan zoom, google classroom maupun metode yang lain, ia bisa terus mengikuti.

Bukan hanya itu, siswa Mudipat juga ada yang mengikuti daring dari luar negeri, seperti Assyifariana Humaira Pramanda Putri kelas IV-C (Cassablanca). Bocah cantik itu mengikuti daring dari Korea Selatan.

Sisi positif yang lainnya, siswa bisa mengikuti belajar dalam keadaan apapun. Ini dibuktikan siswi III-C (Beirut) Diandhari Pramangesti. Meski Diandhari sedang sakit dan harus diinfus tapi bocah cantik itu tetap bisa mengikuti pembelajaran.

Bahkan orang tuanya tidak tega melihatnya putrinya yang sakit itu untuk mengikuti pembelajaran, namun mereka malah terharu saat melihat kesungguhan dan semangat putrinya.

“Saya sudah melarang Diandhari untuk ikut belajar biar dia istirahat dulu, tapi dia bersikeras ikut. Katanya belajarnya dari rumah saja, ndak apa-apa,” cerita Bundanya.

Di tengah pembelajaran  baik orang tuanya maupun kami, Ustadzahnya menyarankan dia untuk istirahat sebentar, dia tetap tidak mau meninggalkan proses pembelajaran. Inilah yang membuat kami terharu, semangat pantang menyerah, semoga menginspirasi teman yang lainya. Kami bangga padamu, anak-anak hebat. (azizah)