Guru Ini Telah Mengabdi 36 Tahun Lebih di Mudipat, Saat Perpisahan Tak Henti-Hentinya Meminta Maaf

334
Ustadz Syaikhul beserta Ustadzah Lia dan Ustadz Ain menyerahkan piagam penghargaan kepada Ustadzah Tutik. (mul/mudipat.co)

MUDIPAT.CO – Ustadzah Puji Astuti memurnakan tugas mulianya sebagai guru SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya (Mudipat) per akhir tahun pelajaran 2019/2020. Ustadzah Tutik, sapaan karibnya, telah mengabdi di Mudipat selama 36 tahun 8 bulan. Terhitung sejak 20 Oktober 1983 hingga 30 Juni 2020.

Banyak kenanangan manis yang diukir selama berjuang bersama membesarkan Mudipat, terutama sejak masa awal-awal. Kondisi dulu tentu tak senyaman hari ini. Dulu fasilitas serba kurang, gedung sekolahnya masih cukup jelek, dan muridnya masih sedikit. Namun lambat laun sekolah yang dia ikut rawat itu makin maju dan mapan.

Ustadzah Tutik juga pernah memutuskan hal paling dahsyat dalam hidupnya, dulu. Perempuan asli Jogja yang jebolan SPG itu mestinya lulus pendidikan SPG langsung menjadi PNS–sudah diplot oleh dinas terkait–yang ditempatkan di Sidoarjo. Namun hatinya tertambat pada Muhammadiyah. Maka sejak 20 Oktober 36 tahun lalu itu Ustadzah Tutik mengabdi di Mudipat.

Sabtu kemarin (18/7/2020) Mudipat menggelar rapat dinas sekolah di Auditorium TMB yang dirangkai dengan pisah kenang purna tugas dua guru. Yaitu ustadzah Tutik dan Ustadzah Anggi yang pindah ke Kalimantan.

Acara kemarin penuh haru dan menguras air mata. Memang tak ada perpisahan yang indah. Sesak yang ada. “Maafkan saya, maaf,” ucap Ustadzah Tutik selepas mengucap salam memulai pidato singkatnya. Hening suasana. Tak ada kata dan suara. Ustadzah Tutik terhenti dan repot dengan airmatanya yang tak henti berderai di pipinya. Peserta Rapat yang hadir pun ikut melelehkan air mata.

Perempuan kelahiran 2 Mei 1960 akhirnya mau melanjutkan kesan pesannya selang beberapa waktu, sambil dipeluk oleh Ustadzah Lia, wakil kepala sekolah, di sampingnya juga terus ikut menguatkannya ada Ustadz Syaikhul, kepala sekolah dan Ustadz Ainuzzaim, wakil kepala sekolah.

“Maafkan saya, teman-teman. Selama kita bersama mungkin ada sikap dan perkataan saya yang tidak nyaman di hati panjengan semua, maafkan.” Gemetar suaranya. Berteman juga dengan airmata. “Maafkan nggih. Terutama kepada bapak kepala sekolah. Maaf, Bapak,” Ustadzah Tutik menoleh ke Ustadz Syaikhul yang kemudian dibalas dengan anggukan takzim.

Ustadzah Tutik mengakhiri pidatonya lantas disambut tepuk tangan riuh dan pelukan dari beberapa kolega yang juga senior. Selanjutnya diserahkan piagam penghargaan, tali asih berupa gelang emas hasil urunan guru karyawan dan terakhir diserahkan uang pesangon dari sekolah sebesar Rp 182 juta.

Ustadz Syaikhul beserta Ustadzah Lia, Ustadz Ain, dan perwakilan kolega menyerahkan kenang-kenangan kepada Ustadzah Anggi. (mul/mudipat.co)

Selain Ustadzah Tutik, kemarin juga dilangsungkan perpisahan dengan Ustadzah Anggi Tri Prasetya Ningtyas SPd. Guru Bahasa Inggris kelahiran Sidoarjo, 16 Desember 1991 itu mengajukan resign karena akan pindah tugas ke Kalimantan mengikuti keluarganya. Ustadzah Anggi mengabdi di Mudipat sejak 1 Oktober 2014 hingga 30 Juni 2020 (5 tahun 9 bulan).

Terima kasih atas pengabdian, dedikasi, dan kontribusinya Ustadzah Tutik Ustadzah Anggi. Semoga menjadi amal shalih. Amin. (mul)