Dr Sholihin dan Dra Sri Purwanti Terima Reward 25 Tahun Mengadi, Begini Sukanya

123
Kepala Sekolah Ust Syaikhul memberi reward kepada Dr Sholihin dan Dra Sri Purwanti

MUDIPAT.CO – Acara the 6th ACCESS (Academic Enlightening Session) SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya (Mudipat), diakhiri dengan pemberian penghargaan terhadap dua guru yang sudah mengabdi selama 25 tahun, Sabtu (20/6/2020).

Kedua guru tersebut adalah Dr. M. Sholihin, MPSDM dan Dra. Sri Purwanti Puji Lestari. Penghargaan tersebut langsung diberikan oleh Ustadz M. Syaikhul Islam, Kepala Sekolah, berupa emas murni seberat 10 gram.

Selama 25 tahun tentu banyak cerita, suka maupun duka. Saat ditanya tentang suka duka selama di Mudipat Ustadz Sholihin menyampaikan banyak sukanya dan hampir tidak ada dukanya. Dengan panjang lebar ia menceritakan saat awal masuk di sekolah ini hingga berkembang pesat seperti saat ini.

Menurut ceritanya awal ia mengajar di Mudipat tahun 1995, sekolah ini sudah besar dan sudah terkenal. Saat itu Mudipat sudah ditetapkan oleh Majelis Dikdasmen PWM Jatim sebagai sekolah percontohan. Konsep yang diusung adalah sekolah Islam unggulan. Dengan model pembelajaran totally study school, pembelajaran tutor sebaya, dan melakukan rekayasa kurikulum.  Kurikulum didesain agar bisa hidup. Kurikulum harus bisa tertawa, berbicara dan lain-lain.

“Kurikulum itu ibarat bahan baku seperti beras. Mau diolah menjadi berbagai macam rasa adalah tergantung kokinya,” ucapnya.

Lebih lanjut lagi ia juga mengenang pesan dari  Pak Drs. Djoko Purwantoro, Kepala Sekolah kala itu. Menurutnya pak Joko, panggilan akrabnya sering menyampaikan bahwa guru harus menjadi seperti seorang seniman. Ditangan seorang seniman, daun yang berserakan dan ranting-ranting pohon yang berguguran akan menjadi karya yang indah dan bernilai tinggi.

“Bisa diterima jadi guru di Mudipat waktu itu merupakan sebuah kehormatan dan kebanggaan yang luar biasa. Persaudaraan dan kebersamaanya waktu itu luar biasa. Hampir jarang ada orang pulang dari sekolah sore hari,  rata-ratanya malam hari,” ujarnya.

Ustadz Sholihin juga bercerita jika awal ia menjadi guru tidak tahu apa-apa tentang pendidikan Muhammadiyah. Karena ia hanya lulusan S1 IAIN sunan Ampel Surabaya jurusan hukum pidana Islam. Namun ia tidak patah arang dengan banyak berdiskusi dengan teman dan orang-orang yang mumpuni. Ia berdiskusi bagaimana memajukan sekolah. Bagaimana anak-anak bisa juara? Bagaimana sekolah bisa terkenal? Bagaimana supaya banyak orang menyekolahkan anaknya di Mudipat?

“Kalau anak-anak sudah bisa juara tingkat kecamatan, bagaimana bisa juara Tingkat Kota. Kalau sudah juara tingkat kota,  bagaimana caranya bisa juara tingkat Propinsi, dan seterusnya hingga bisa juara tingkat tingkat Internasional. Jadi hari-hari kita diskusi dengan semua orang,” tuturnya.

Selain itu diskusi juga tentang bagaimana cara memberikan pelayanan yang terbaik dan memuaskan semua orang, service excellent. Bagaimana carannya kegiatan bisa menarik dan diliput oleh media koran atau TV. Berdiskusi bagaimana caranya agar ada sekolah yang mau studi banding. Kalau sekolah yang sudah studi banding bagaimana caranya agar mereka mau magang. Juga mencari agar    ada orang mau mengadakan kegiatannya di sekolah dimalam hari, supaya sekolah terasa selalu hidup.

“Pokoknya masih banyak cerita yang menarik. Diskusi dan komunikasi itu kuncinya. Yang akhirnya Mudipat ditetapkan oleh Diknas dan LIPI sebagai Sekolah Teladan Nasional 3 kali, yaitu tahun 2003, 2007 dan 2009, dan juga mendapat beberapa rekor MURI,” ucapnya bersemangat.

Sementara itu cerita Bu Sri, panggilan keseharianya juga tidak kalah menarik. Ia mengabdi di Mudipat sebagai guru kls I dan II selama 18 tahun, kemudian selama 7 tahun mengajar di kelas IV. Selama itu ia lebih banyak merasa senang dan bersemangat karena setiap tahun  bertemu dengan anak yang berbeda karakter.

“Semoga Mudipat semakin bersinar dan dapat mengantarkan anak hebat calon pemimpin bangsa yang berakhlaqul karimah,” harapnya.

Sementara itu Ustadz Marsudidono, Kepala Urusan Sumber Daya Insani (KAUR SDI) mengatakan pemberian reward  berarti secara jelas kita mengakui dan menghargai pengabdian mereka. Kata orang Jawa “nguwongke” walaupun jika dinilai secara material itu tidak seberapa tapi insyaAllah dengan begitu mereka akan senang, bahagia. Mereka merasa diperhatikan oleh sekolah.

Dengan begitu menurutnya timbul rasa terimakasih yang akan mendorong mereka untuk berbuat lebih baik lagi demi kemajuan sekolah. Mereka akan lebih meningkatkan kinerjanya, lebih giat, lebih berprestasi dan lain-lain yang positif. (azizah)