Melihat Proses Pembelajaran, 62 Siswa Mudipat Berkunjung ke Sekolah Jepang Surabaya

45
Peserta Diklat Bahasa Jepang foto bersama dengan Wakil Kepala Sekolah Jepang Yoshinaga Kyoto (berdiri tiga dari kanan)

MUDIPAT.CO – Yoshinaga Kyoto Wakil Kepala Sekolah Jepang Surabaya (SJS) tersenyum senang saat menyambut kedatangan siswa SD Muhammadiyah 4 Surabaya atau mudipat di aula Sekolah Jepang Surabaya, Jl. Jetis Seraten, Selasa (12/11/2019)

“Konnichiwa,” ucap Yoshinaga ketika menyambut kedatangan siswa-siswa. Kedatangan siswa yang berjumlah 62 itu merupakan bagian dari kegiatan pelatihan Bahasa Jepang yang diadakan Ekstrakurikuler Bahasa Jepang mudipat.

Kedatangan siswa-siswa juga disambut staf Sekolah Jepang Eko Karyono dan Arghi Yudha. “Saya senang atas kehadiran kalian ke sini. Setelah ini kalian bisa berkeliling ke kelas-kelas melihat proses pembelajaran. Nanti kalian didampingi staf kami Pak Eko dan Pak Arghi,” ujar Yoshinaga dalam bahasa Jepang yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh staf SJS.

Secara berkelompok setelah sambutan siswa-siswa mudipat berkeliling ke kelas-kelas melihat proses pembelajaran. “Mereka kelas 3 sedang belajar ilmu sosial,” kata Eko sambil menunjuk ke arah kelas.

“Jumlah siswa di sini sebanyak 54 siswa, mulai TK sampai SMP. Memakai kurikulum dari Pemerintah Jepang. Di sini juga ada pelajaran Bahasa Indonesia yang diajarkan seminggu sekali,” terang Eko.

“Di SJS jam belajar mulai jam 07.00 sampai 16.00. SJS disini jenjang TK sampai SMP adalah sekolah khusus untuk warga negara Jepang yang menetap di Indonesia,” katanya.

“Orang tua siswa-siswa di sini adalah warga negara Jepang yang bekerja di Indonesia, kebanyakan petinggi-petinggi perusahaan,” tambahnya.

Selain belajar pelajaran akademik seperti matematika, IPA, dan Ilmu Sosial di SJS siswa-siswa juga belajar life skill. “Di SJS siswa-siswa diajari bagaimana cara mencuci pakaian, mencuci piring gelas, memasak dan lain-lain. Dulu pelajaran seperti ini dinamakan PKK, sekarang disebut life skill,” terang Arghi staf SJS yang turut mendampingi siswa-siswa mudipat keliling kelas.

Terakhir, Eko menjelaskan sedikit sejarah SJS. “SJS pertama didirikan tahun 1979 bertempat di daerah dekat Kebun Binatang Surabaya. Satu tahun kemudian pindah ke daerah Darmo Permai. Lalu tahun 1994 pindah ke Jetis Seraten sampai sekarang,” jelas Eko. (Anang)