Serunya HW Camp, Masak Nasi Goreng hingga Tangani Patah Tulang

0
80
Siswa-siswi Mudipat mendengarkan materi dari Bunda Rumi (foto:Anang/mudipat.co)

MUDIPAT.CO – SD Muhammadiyah 4 Surabaya atau Mudipat menyelenggarakan Hizbul Wathan Camp (HW Camp) pada Kamis-Sabtu (28 Februari -2 Maret 2019) di Agro Mulia Prigen Pasuruan. Kegiatan ini diikuti 250 siswa kelas 5.

Materi-materi yang diajarkan adalah membuat lampion, menggambar bendera regu, membuat nasi goreng, pionering, Pertolongan Pertama Gawat Darurat, sandi kotak, semaphore, dan baris-berbaris.

Materi itu disampaikan oleh Rumiyatin, Jos Irianto, Toni Wijaya, Linda Aprilia, Nur Fuad, Ika Lukita, Linda Aprilia, Dinik Kurniawati, dan Mukhlisin.

“Ketika ada teman yang terluka mengeluarkan darah, luka itu harus segera dibersihkan menggunakan air bersih, ingat jangan membersihkan luka pakai alkohol,” ujar Rumiyatin.

Rumiyatin menambahkan, luka ringan dibersihkan pakai air bersih selama 3 menit, kalau luka bakar selama 20 menit.

“Perlu diingat harus menggunakan air bersih. Air bersih itu bisa berupa air dalam kemasan atau air yang sudah direbus. Jadi tidak sembarang air,” tandasnya.

Rumiyatin kemudian memberikan materi tentang bidai. “Bidai adalah memasang alat dari kayu, atau bahan lain yang kuat tetapi ringan yang digunakan untuk menahan atau menjaga agar bagian tulang yang patah tidak bergerak,” jelasnya.

Indikasi patah tulang, Rumiyatin melanjutkan, bagian yang patah membengkak, daerah yang patah terasa nyeri, terjadi perubahan bentuk pada anggota badan yang patah.

Selain itu peserta HW Camp juga diberi materi tentang kebencanaan, disampaikan Arief Nur Kholis dari Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

“Gempa bumi tidak bisa dicegah tapi kita bisa merencanakan untuk menyelamatkan diri,” kata Arief.

“Kalau bencana banjir, tanah longsor bisa dicegah dengan cara tidak menebang hutan secara liar, tidak membuang sampah sembarangan dan lain-lain,” tambahnya.

Arief mengatakan, jika terjadi bencana banjir atau tsunami cara menyelamatkan diri adalah berlari menuju tempat yang lebih tinggi.

“Tapi kalau tanah longsor jangan menuju ke tempat lebih tinggi berbahaya,” tambahnya.

Setelah diberikan materi-materi siswa-siswi diajak outbond dengan permainan pemancangan bendera, bangun datar sempurna, transfer karet gelang dengan sedotan, buldoser, menara air, membuat jembatan, dan kereta buta.

Sementara Aliyatuz Zakiyah Wakil Kepala Sekolah mengatakan dalam sambutan upacara pembukaan, sengaja mengajak siswa-siswi jauh dari hiruk pikuk kota Surabaya agar lebih dekat dengan alam dan lebih mensyukuri nikmat Allah.

“HW Camp merupakan puncak dari kegiatan ekstrakurikuler HW. Kalian diberi materi untuk melatih kemandirian, disiplin, tanggungjawab, empati, dan kerjasama,” katanya.

“Tidak hanya diberikan materi, anak-anak juga diberi bekal spiritual. Ditengah padatnya jadwal acara, ibadah shalat fardhu, shalat tahajjud, shalat dhuha, shalat Jumat, dan kultum tetap dijalankan,” ujarnya.

Setelah kegiatan HW Camp, sambungnya, diharapkan menjadi anak yang kuat, tangguh, tahan banting, dan lebih bertaqwa pada Allah. (Anang)